![]() |
| Anwar Anshori Mahdum |
Fitrah merupakan kecenderungan alamiah bawaan sejak lahir. Secara alamiah manusia sejak awal kelahirannya telah memiliki fitrah bawaan yakni fitrah ketauhidan. Islam sebagai agama fitrah tidak hanya sesuai dengan naluri keberagamaan manusia tetapi juga menunjang pertumbuhan dan perkembangan fitrahnya. Hal ini menjadikan eksistensinya utuh dengan kepribadiannya yang sempurna. Manusia harus tetap atas fitrah lurusnya yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan apabila manusia menyimpang dari fitrah tersebut maka manusia harus bertanggungjawab atas fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala
Manusia dengan segala kekurangannya tak pernah luput dari dosa, fitrah (kesucian) yang Allah tentukan dari awal ciptaan tanpa sadar sering tergores khilaf. Itulah yang menyebabkan suci hati tak lagi bersih. Beruntung, Allah sangat besar rahmat dan ampunannya sehingga di berikan manusia fasilitas ‘kebaikan’ agar manusia memanfaatkannya. Apa saja fasilitas yang di berikan Allah, agar kita kembali menjadi fitrah, tersucikan kembali. Rasulullah bersabda:
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa yang di antara semua itu, jika dosa-dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim, no. 233]
Tidak terasa waktu terus bergulir, fitrah suci yang Allah tanam dalam jiwa kita, secara perlahan tapi pasti terkotori dengan debu dosa. Sering dalam kesadaran ataupun dalam ketidak sadaran kita melakukan sesuatu yang keliru. Mata kita sering salah menatap, telinga kita sering salah mendengar, lisan kita sering salah berucap. Bahkan hati kitapun tak luput dari lintasan-lintasan kesalahan bila kita biarkan tanpa pengendalian.
Memang kesalahan itu manusiawi, dan itulah ciri dari manusia. Manusia yang baik bukan manusia yang tidak punya kesalahan, manusia yang baik adalah manusia yang berusaha memperbaiki kesalahan dengan kebaikan. Itulah, kenapa kita di berikan fasilitas oleh Allah dengan segala perangkat kehidupan agar kita bisa mengkaji diri. Akal adalah perangkat yang di berikan Allah kepada manusia agar kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mata, telinga, tangan, mulut, kaki dan perangkat lainnya sesungguhnya adalah alat hidup agar manusia dapat melaksakan apa yang di syariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beruntunglah orang-orang yang mau menggunakan hatinya untuk memahami Ayat-Ayat Allah. Beruntunglah orang-orang yang diberikan Allah pendengaran dan dengannya ia bisa mendengarkan ayat-ayat Allah. Dan beruntunglah mereka karena tidak termasuk kelompok orang yang merugi dan tidak dicap Allah sebagai binatang ternak. Allah berfirman: “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Qs. Al-a’raf [7]:179)
Tidak ada kebahagiaan yang terindah dalam hidup
seorang kecuali ketika kesalahannya di maafkan. Begitu juga, tidak ada
kehidupan yang paling menyenangkan, kecuali segala dosa dan kesalahan kita
dapat terampuni. Beruntunglah siapapun yang dalam penggalan hidupnya terus
berusaha untuk mempertahankan kesucian diri dari pengaruh dosa dan kemaksiatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar