Selasa, 13 Agustus 2024

Belajar Dari Pengalaman

Anwar Anshori Mahdum

 Belajar Dari Pengalaman

    Ada ungkapan dalam bahasa inggris yang sangat popular, yaitu; Experience is the best teacher "Pengalaman adalah guru terbaik". Pengalaman dapat merubah seseorang menjadi lebih baik. Pengalaman dapat menuntun seseorang untuk belajar berfikir dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Pengalaman juga merupakan proses pendewasaan diri seseorang.

    Pengalaman pahit menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan kita, misalnya tidak dihargai, dilecehkan, difitnah, disakiti, gagal, dan lain sebagainya. Namun pengalaman terpahit sekalipun dapat menjadi titik tolak mencapai puncak kejayaan dan kebahagiaan jika kita memiliki kekuatan memperbaiki diri terus menerus.

    Salah satu manfaat jika kita selalu memperbaiki diri adalah mampu mengantisipasi kejadian buruk menimpa kita. Dengan terus memperbaiki diri, keadaan kita sudah siap atau bahkan lebih baik, ketika muncul sinyal segala sesuatu menjadi sulit. Kekuatan memperbaiki diri akan membantu kita menyesuaikan diri dengan perubahan terkecil sekalipun, sehingga tidak sampai terjerembab dalam kesulitan yang lebih besar.

    Beberapa tips berikut ini mungkin dapat membantu kita membuka kunci kekuatan perbaikan diri.

    Pertama, Milikilah cita-cita dan komitmen untuk mencapainya, sebab cita-cita akan menjadi daya atau semangat juang bagi kita. Hidup tanpa visi laksana berlayar tanpa tujuan, terasa hampa dan hidup ini sama sekali tak berguna.

    Kedua, Yakinlah pada visi kita. Mengutip kata Pablo Piccaso, seorang pelukis asal Spanyol, "Sesuatu yang dapat kamu bayangkan adalah nyata." Sehingga bila kita yakin, maka kita tidak mudah menyerah melakukan tindakan-tindakan positif agar visi kita segera tercapai, misalnya; ingin langsing dengan rajin olah raga, ingin pintar dengan rajin membaca, ingin lebih dermawan dan dicintai banyak orang dengan membantu lebih banyak sesama, ingin lebih sukses dengan berusaha lebih keras dan lain sebagainya.

    Ketiga, Pertajam kegigihan. jangan mudah menyerah ketika menghadapi banyak tantangan atau selalu menghadapi kegagalan. Kegigihan akan mendorong kita untuk memperbaiki diri terus menerus.

    Keempat, Cintai diri sendiri, Lupakanlah keinginan untuk menjadi orang lain, dengan meningkatkan kualitas, kemampuan, dan kebaikan. Dengan begitu, kekurangan kita tak akan lebih menonjol dibandingkan prestasi, kontribusi, dan kemampuan yang kita miliki.

    Masih banyak lagi cara untuk membuka kunci kekuatan perbaikan diri. Namun yang terpenting adalah motivasilah diri kita untuk terus melakukan perbaikan, sebab perubahan besar akan selalu berawal dari dalam diri sendiri. Ketika kita sudah menikmati setiap proses memperbaiki diri, berarti kita juga telah memiliki kemampuan menjadikan segala sesuatu indah, membanggakan, dan membahagiakan.

    Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa yang kita alami dalam hidup adalah sebagai suatu akibat dari apa yang telah kita usahakan dan perjuangkan sebelumnya. Bila kita mengusahakannya dengan cara yang salah, tanpa perencanaan matang dan pertimbangan cermat, maka kita akan menuai hasil atau kenyataan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitupun sebaliknya, bila kita mengusahakannya dengan cara yang benar, perencanaan matang dan pertimbangan yang cermat, maka kita tinggal menunggu sesuatu yang menyenangkan itu datang pada diri kita.





Senin, 12 Agustus 2024

Memahami Watak Kehidupan

Memahami Watak Kehidupan

 Anwar Anshori Mahdum

Jika Allah menjawab doa-doamu,  berarti Allah ingin meningkatkan keimananmu.  Jika Allah menunda menjawab doamu, berarti Allah ingin meningkatkan kesabaranmu.   Jika Allah tidak menjawab doamu, maka yakinlah bahwa Allah memiliki rencana  yang lebih baik untukmu.

    Sesungguhnya hidup ini tak lain dari perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan, ada suka dan duka yang kita rasakan, ada lapang dan sempit dalam kehidupan dan ada kemudahan setelah datang kesempitan. Realitas kehidupan ini tak bisa dihindari dari adanya perbedaan antara yang satu dan yang lain. Peredaran kosmos bumi ini telah memberikan porsi berbeda-beda dalam menikmatinya, sesuai dengan takdir Allah dan usaha masing-masing.

    Seseorang tidak mampu memaksakan semau kehendak dan keinginanya dalam hidup ini. Ia selalu saja di batasi oleh berbagai hal dan dirinya sendiri. Membuat tak semua yang di inginkan bisa menjadi kenyataan. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh peristiwa apa yang terjadi padanya, tetapi oleh bagaimana responsnya terhadap peristiwa itu.. kita bisa merespon dengan cara positif atau negatif, semuanya terserah pada pilihan. Memilih respon negatif mengantarkan kita menjadi pecundang, dan memilih respon positif mengantar kepada kesuksesan. Maka jangan heran, jika keinginan-keinginan kita tidak tercapai kecuali harus melewati onak dan duri, seakan dunia ini menguji kita dengan beragam perjuangan dan pergulatan untuk mendorong kita agar mampu menghadapi dan mengalahkannya.

   Membiasakan diri untuk bersabar menghadapi ujian dengan beragam tantangan, sangat membutuhkan tekad yang kuat dan mental yang mantap. Menyerah terhadap semua itu tidak akan membuahkan apa-apa selain kehinaan. Hanyut dalam kenestapaan hanya akan membuka peluang kesedihan.

    Setiap kita suka atau tidak suka harus mampu menghadapi apapun persoalan yang tidak kita sukai, karena sejauh apapun kita berlari untuk sembunyi, semua itu tidak akan merubah ketetapan Ilahi. Yakinlah, bahwa langit tak selamanya mendung, awan kelabu pasti berlalu. Rasulullah seakan menghibur kita dengan sabdanya:

    Dari Shuhaib ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

    Dan watak kehidupan yang lain adalah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal. Artinya selalu berubah keadaan, termasuk segala kesulitan yang kita derita. Ia tidak selamanya bersemayam pada kehidupan kita. Akan ada kemudahan bersama datangnya kesulitan. Allah berfirman:

     “..Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah [94]: 5-6)

    Dalam ayat ini dijelaskan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan. Dan tidak diungkapkan dengan ungkapan (Sesungguhnya sesudah kesulitan itu terdapat kemudahan), jadi yang digunakan kedua ayat ini adalah kata ma’a (bersama) dan bukan ba’da (sesudah). Apa artinya? Artinya ungkapan ini bertujuan untuk menyatakan bahwa kemudahan akan datang sesudah itu dalam waktu yang amat dekat hingga seakan-akan kemudahan itu datang bersamaan dengan kesulitan itu sendiri. Juga merupakan suatu pernyataan bahwa setiap kesulitan akan disusul dengan kemudahan yang lebih banyak. Sunnatullah telah mengajari kita, bahwa ketika penderitaan telah sampai pada puncaknya, maka hal itu akan mengisyaratkan bahwa telah mendekatkannya kemenangan dan pertolongan.

    Berikut ini beberapa usaha yang seyogyanya kita lakukan dalam rangka meraih kemudahan dari Allah ta’ala:

  1. Memperkuat benteng taqwa, Berdasarkan firman Allah ta’ala.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”     (ath-Thalaq: 2)

  1. Memperindah sikap tawakal. Karena Allah ta’ala berfirman, 

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (ath-Thalaq: 3)

  1. Mengokohkan jiwa kesabaran.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

  1. Menempuh jalan keIkhlasan.
        “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami                 tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69

  1. Meluruskan keimanan. Allah ta’ala berfirman

 “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

  1. Mengenal Allah dalam keadaan lapang.

    Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Allah akan mengenalmu dalam keadaan sempit.” (Riwayat Ahmad)

    Maksudnya, jika seorang hamba dalam keadaan lapangnya tetap bertakwa kepada Allah, menjaga batasan-batasan-Nya, dan memperhatikan hak-hak-Nya, berarti dia telah mengenal Allah dalam keadaan lapang. Dan dengan itulah Allah akan menyelamatkannya dari berbagai kesusahan dan kesulitan.

 

 

Akan Indah Pada Waktunya

Anwar Anshori Mahdum

Misteri kehidupan memang sulit di mengerti, kegagalan, kekecewaan, sakit hati, atau bahkan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan hadir seakan menjadi penyempurna kehidupan. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, siang malam banting tulang dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Berbagai teori dan prinsip pengembangan diri sudah dijalankan, namun terkadang kehidupan yang di impikan masih jauh dari harapan.

Ada orang bilang, hidup itu bagaikan roda berputar, Terkadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Untuk bisa terus berjalan, roda haruslah terus berputar. Kalau roda berhenti berputar, kita pun tak akan bisa mencapai apa-apa atau sampai ke tempat tujuan. Begitu juga perjalanan hidup tidak semulus yang kita harapkan, terkadang kita harus melewati jalan terjal untuk menikmati jalan yang landai, kita harus lelah mendaki, baru bisa menikmati indahnya puncak gunung.

Syaik Ibn ‘Athaillah dalam al-Hikam bertutur: “Ketika Allah memberimu, berarti Dia membuatmu menyaksikan kebaikan-Nya; dan ketika Allah mencegahmu, berarti Dia membuatmu menyaksikan kekuasaan-Nya”. Dengan kata lain, apabila kenyataan sesuai harapan, maka bersyukurlah, karena yang demikian itu merupakan kebaikan Ilahi. Namun apabila kenyataan tidak sesuai harapan, maka rendah hatilah (tawadhu’), karena yang demikian itu merupakan kekuasaan Ilahi. Jadi, kalam hikmah ini mengajarkan bahwa dalam hidup manusia, ada kenyataan yang sesuai dan tidak sesuai dengan harapan.

"Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman."(QS.At-Taubah [9]: 51).

Ketika Allah sedang menyulam kehidupan hamba-Nya, tak perlu Allah mengungkap rencana-Nya, karena Allah ingin semua terasa indah pada waktunya. Allah ingin melihat hamba-Nya gigih dalam menjalani prosesnya. Allah ingin melihat hamba-Nya bercucuran air mata, bersimpuh di malam hari menghadap-Nya. Allah ingin melihat tegarnya dada hamba-Nya, bersabar dalam menerima cobaa-Nya. Allah ingin melihat senyum dan ucapan syukur keluar dari mulut hamba-Nya tatkala Allah merealisasikan doa hamba-Nya dan rencana terbaik-Nya.

Yakinlah bahwa bagaimana pun keadaan yang terjadi dan dialami, itu semua merupakan bagian dari skenario terbaik Allah untuk kita. Di sinilah pentingnya umat muslim berbaik sangka (husnuzhan) kepada Allah dan meyakini kebenaran firman-Nya,

“Dalam kekuasaan-Mulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 26).

Jika kita yakin bahwa semua skenario ini telah dirancang dengan rapi oleh Sang sutradara Alam Semesta, maka tak perlu takut, tersenyumlah. Jika kita tahu bahwa  Sang Khalik tak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya, maka tak usah gelisah, tersenyumlah. Jika kita faham bahwa hanya Allah yang mengetahui apa yang baik untuk kita, maka tak perlu risau, tersenyumlah. Jika kita mengerti bahwa skenario Allah itu adalah skenario yang paling indah, maka tak usah gundah, tersenyumlah.

Tak peduli apa yang Allah tulis tentang kisah hidup kita, apakah senang, sedih, tangis, kegagalan, atau bahkan kecewa hati yang paling dalam sekalipun. Tetaplah percaya bahwa apapun yang Allah tulis untuk kita adalah yang terbaik, jangan pernah ragu akan ketetapan yang Allah persembahkan untuk kita. Sebab, Allah menuliskan takdir pada kita sudah lengkap dengan kebaikan yang terkandung didalamnya, karena Allah memang akan selalu mempersembahkan yang terbaik untuk hamba-hambanya.

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar. Berbagai persoalan yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi (hadits). Meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan.

 

*****

Merenda Asa Menepis Putus Asa

Anwar Anshori Mahdum

Putus asa ibarat bom waktu yang dalam sekejap mampu membumi hanguskan seluruh kekuatan dan kemampuan. Kelemahanlah yang menjadikan rasa putus asa itu muncul. Betapapun demikian itu adalah sifat yang wajar. Allah berfirman:

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka Dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Qs. Fuhilat [41]:49

Sifat putus asa walaupun wajar, tetapi membiarkannya akan mematikan kreatifitas, karena siapapun yang di kuasai rasa putus asa maka sebenarnya kebahagiaan telah hilang darinya. Rasulullah bersabda: “Jika anda jenuh, maka anda tidak akan sabar dalam kebenaran”. 

Dalam hadist yang lain Rasulullah mengingatkan tentang rasa jenuh (bosan), beliau bersabda: 

“Setiap amal itu ada masa semangat dan masa bosannya. Barang siapa yang dalam bosannya tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka dia telah beruntung. Namun barang siapa yang beralih kepada selain itu, berarti ia telah celaka”.( HR.Ahmad)

Sesungguhnya, ketika seorang berputus-asa berarti ia telah menutup diri dari proses hidup yang selalu bergerak, berkembang. Seseorang yang berputus-asa adalah orang yang jiwanya seakan mati. Sebagai akibatnya adalah merasa hidup tidak bermakna.

Islam menghimbau umatnya untuk menjauhi akhlak-akhlak tercela, termasuk sikap putus asa. Orang yang kehilangan harapan dalam hidupnya menunjukkan imannya yang lemah dan fondasi keislaman yang rapuh.

Selain itu, Allah SWT juga menjelaskan bahwa sikap putus asa merupakan karakteristik orang kafir, bukan orang beriman.  

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir,” (QS. Yusuf [12]: 87).

Ayat tersebut melarang orang yang beriman untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan sikap putus asa dikaitkan dengan sikap kufur yakni mengingkari nikmat Allah. Karena orang yang berputus asa biasanya hanya fokus pada nikmat yang hilang atau harapan yang tak terwujud sementara nikmat-nikmat Allah lainnya yang justru lebih besar dan lebih banyak tidak lagi dirasakannya.

Bila ia menyadari dan yakin bahwa mendapat nikmat dan hilangnya nikmat karena rahmat Allah jua maka tidak perlu ia berputus asa. Harta adalah nikmat. pekerjaan adalah nikmat. kesehatan adalah nikmat. Begitu nikmat tersebut satu persatu Allah ambil kembali kita sering sedih, risau dan berputus asa. Padahal, nikmat-nikmat tersebut pun sebelumnya tidak kita dapatkan kemudian Allah berikan dan sekarang ia ambil kembali nikmat itu, mengapa menjadi risau?.  

Orang yang putus asa sangat dekat dengan kekufuran Allah gambarkan dalam Q.S. Hud/11: 9: Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi berputus asa lagi tidak berterima kasih. Q.S. Hud/11: 9:

Putus asa memiliki sejumlah dampak negatif bagi orang yang bersikap demikian. Dampak-dampak negatif putus asa adalah sebagai berikut:

  • Putus asa hanya akan merugikan diri sendiri karena membuang waktu, energi, menguras emosi, dan potensi yang dimiliki seseorang.
  • Orang putus asa akan sukar mencapai kemajuan karena tidak berani mencoba lagi, serta khawatir mengalami kegagalan.
  • Putus asa berkepanjangan dapat mengantarkan seseorang mengalami stres dan depresi.
  • Sikap putus asa yang diiringi depresi dapat menjadi faktor hadirnya pemikiran ingin bunuh diri.

Bagi orang yang beriman, hilangnya nikmat atau tidak terpenuhinya harapan tidak menjadikannya berputus asa. Ia terus bersikap optimis dan yakin bahwa nikmat Allah yang ada masih jauh lebih banyak dari nikmat yang hilang. Ia juga yakin bahwa dalam keadaan dan kondisi apa pun, Allah memberikan yang terbaik bagi hambanya. Diberikannya nikmat itu adalah baik dan hilangnya nikmat itu juga baik.

Tidak ada alasan bagi seorang muslim sedikitpun untuk merasa khawatir apalagi putus asa ketika Allah sudah berjanji untuk menjadi Penolongnya. Tidak ada keharusan bagi setiap muslim untuk merasa takut, padahal Allah sudah berjanji untuk selalu melindunginya. Sungguh, Allah Maha Pemberi karunia kepada seorang hamba yang selalu bertawakkal untuk menggapai rahmat-Nya.

Tersenyumlah


 

Muhasabah : Tanpa Iman


                                                                             Anwar Anshori Mahdum

Tanpa Iman 

·        Tanpa iman kepada qadha’ dan qadar,
niscaya kita akan terbunuh oleh kesedihan dan kesengsaraan.
·        Kalaulah bukan karena iman kita kepada rahmat Allah,
maka kita akan terbunuh oleh rasa putus asa
·        Tanpa iman kita kepada abadinya kebaikan,
niscaya kita akan hancur oleh kebathilan
·        Tanpa iman kita pada rezeki yang datang dari Allah,
maka kita akan menjadi orang yang rakus dan tamak terhadap harta benda
·        .Tanpa iman kita kepada hari perhitungan,
maka kita akan menjadi orang yang bakhil dan boros
·        Tanpa iman kita kepada keadilan Allah,
niscaya kita akan termasuk orang-orang yang zalim
·        Dan kalaulah bukan karena kesadaran iman kita akan hikmah-hikmah-Nya,
pastilah kita sudah menjadi orang-orang yang bingung dan penuh keraguan.
 

 

Persembahan Cinta Untuk Ayah Ibu, Istri dan Anak-anakku

 

Anwar Anshori Mahdum


Teruntuk Ayah dan Ibuku

Ayah..Ibu, Di tubuhku mengalir darahmu, di hidupku mengalir kasih sayangmu. Engkaulah wasilah kehadiranku kedunia ini, samudra kasih sayangmu tak bertepi, besarnya pengorbananmu takkan pernah terganti. Maafkan aku..karena baktiku padamu tak seberat pengorbananmu, dan perhatianku padamu tak sebanding perjuanganmu. Tapi aku masih punya do’a yang selalu ku panjatkan di setiap langkah hidupku. “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Baik ibu maupun ayahku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil”.

 Teruntuk Istriku

Terimakasih istriku.. Kau terima aku menjadi bagian hidupmu. Ketidak sempurnaanku kau tutupi, Ketidak sabaranku kau pahami, bahkan kebodohanku kau maklumi. Kau seka keringat lelahku dengan senyum tulusmu. Kau lapangkan hatimu untuk memaafkan kesalahanku. Berbilang tahun kau menemaniku, tak pernah kau keluhkan lelahmu, bahkan saat kita merasakan susahpun tak kau perlihatkan resahmu. Terimakasih Istriku,  kesabaranmu memotivasi ikhtiarku, kelembutanmu membasuh letih jiwaku. Beban hariku tak berarti ketika kulihat kebahagiaanmu. Kepada Allah aku lantunkan syukur, karena Dia telah mengirimmu ke dunia untuk menjadi pendamping hidupku.

Anakku, mutiara hatiku.

Anak-anakku, Mutiara hatiku. Kalian adalah harapan masa depanku, dunia dan akhiratku. Darimu membuncah semangat hidup yang tak pernah padam. Karena kalian segala rintang dalam hidup akan tetap ku hadang. Jika aku berdoa, doaku menyertaimu. Jika aku berkarya, karyaku banyak terinspirasi darimu dan jika aku tertidur, tidurku terlalu sering memimpikanmu.

Pesan ayah untuk Kalian..Sayangi ibumu, sayangi umi, sebab dia yang menjadi jembatan surgamu. Ibumu, yang keringatnya bercucuran saat berusaha melahirkanmu, yang air matanya selalu menetes saat melihat kesedihanmu, yang matanya selalu terjaga karena khawatir tidak bisa menatapmu, yang kasih sayangnya tercurah selalu untukmu, yang doanya tak pernah putus untuk kebahagiaanmu, yang selalu khawatir saat kalian jauh darinya, selalu ingat anakku…

Anakku, Ridha, haqqa, Salma. Kalian adalah ayat-ayat Allah yang di kirimkan melalui rahim ibumu.  Kelak, ketika usiamu beranjak dewasa, ketika kalian sudah punya tanggung jawab masing-masing, jangan pernah melupakan pengorbanan dan kasih sayang orang tuamu. Sambunglah silaturrahim dengan saudara-saudaramu. Ayah bersyukur Allah menghadirkan kalian, Ayah bangga memiliki kalian.

Bersyukurlah kepada Allah Subahanu wa Ta’ala dengan selalu melaksanakan perintah-Nya, Jangan pernah berpaling dari syariat dan ketentuan-Nya.  Tancapkan dalam hatimu anakku,  bahwa Islam Agamamu, Al-Qur’an suluh jiwamu  dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam tauladan hidupmu.

 

Amalan Tergantung Akhirnya

Anwar Anshori Mahdum Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapankah kita akan meninggal, dan dengan cara ...