Rabu, 14 Agustus 2024

ADA APA DENGAN CINTA

Anwar Anshori Mahdum

 “ Cinta adalah fitrah manusia yang murni,Tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Ia selalu Dibutuhkan. Jika seseorang ingin menikmatinya dengan cara yang terhormat dan mulia, suci dan penuh taqwa. Tentu ia akan mempergunakan cinta itu untuk mencapai keinginan yang suci dan mulia pula.

Ada apa dengan cinta?, begitu besar daya tariknya hingga hampir semua manusia mengejarnya. Bahkan  cinta sebuah kata yang paling banyak di ceritakan dan di bicarakan orang. Karena memang, sering atas nama cinta segalanya menguntungkan. Buku-buku yang bertemakan cinta laris dipasaran, film yang berjudul cinta selalu diserbu penonton, bahkan sampai pernak-pernik asesoris yang bergambar simbol-cintapun selalu diminati pembeli, khususnya rekan muda. Bahkan berpuluh-puluh pujangga telah menggoreskan penanya untuk membahas tentang cinta. Namun sampai kini bahkan hingga tintanya mengering belum kunjung usai membahasnya. Pokoknya, jika sesuatu di kaitkan dengan cinta apapun bentuknya selalu menjadi perhatian. Tentu saja, karena kata inilah yang membuat terasa indah kehidupan. 

Cinta layaknya sebuah episode dari jalinan kisah kehidupan seseorang. Sejak lama sampai kini cinta memiliki sisi menarik yang seolah-olah tidak akan pudar oleh masa, sampai-sampai banyak kisah yang bertema tentang cinta menjadi sebuah legenda. Bicara cinta bagaikan mengarungi bahtera yang tak bertepi, entah kapan sampainya?.

Muhammad Ibnu Daud Azh-Zhahiri mengatakan; “Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemahlembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Karena sebenarnya ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri. Ibnul Qayyim Al-Jauzi mengungkapkan: dalam rasa cinta melibatkan sampai 50 tingkat perasaan. Dari kondisi yang membahagiakan, sampai pada yang menyedihkan. Dari adanya kerinduan sampai keinginan yang selalu mencurahkan kasih sayang. Dan dari cinta buta yang memperdayakan sampai cinta tertinggi yang melahirkan penghambaan.

Cinta tercipta demi kemuliaan manusia, cinta itu suci, tercipta dari yang Maha Suci, tanpa cinta tidak akan pernah ada kehidupan. Dengan sendirinya, cinta itu ada adalah anugerah, menolak cinta sama halnya dengan menolak karunia Tuhan dan menyalahi fitrah, dan itu hukumnya berdosa.

Rasa cinta adalah fitrah yang Allah anugerahkan kepada setiap hamba. Fitrah yang di maksud adalah kecintaan terhadap apa yang di inginkan oleh jiwa dan tergeraknya hati untuk memiliki atau mendapatkannya. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS.Ali-Imran [3]:14)

Tetapi, kecenderungan manusia pada keindahan selain merupkan fitrah juga merupakan ujian bagi manusia. Dan firman lainnya: Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (QS.Al-Ahzab[33];11)

 

Selasa, 13 Agustus 2024

Jadikan Allah Sumber Kekuatan

Anwar Anshori Mahdum

Kehidupan kita adalah proses perjuangan yang tak pernah henti. Ada saat dimana kebahagiaan begitu akrab menemani, namun di saat yang lain penderitaan begitu senang bersemayam di dalam hati. Sungguh, dua keadaan ini memerlukan kekuatan agar kita tetap bertahan pada kebenaran. Jika kita tidak memiliki kekuatan iman, maka bukan saja kehidupan akan terasa menyulitkan, tetapi hari demi hari akan selalu dihinggapi rasa ketakutan.

Jika hati merasa dekat kepada Allah Yang Maha Kuat dan Maha segalanya, akan menghadirkan ketenangan dan membuat jiwa selalu merasakan adanya perlindungan dan tempat bergantung. Kedekatan seorang Mukmin dengan Allah, mendatangkan manfaat yang sangat besar. Tidak ada doa yang tidak dikabulkan, tidak ada dosa yang tidak diampuni, tidak ada kesulitan yang tidak dimudahkan. Bahkan, setiap gerak ibadahnya terasa nikmat karena didasarkan pada rasa cinta kepada Zat Yang Maha Agung.

Salah satu benteng kekuatan yang dengannya seorang muslim mampu bertahan dalam kehidupan ini adalah dengan menjadikan Allah sumber segala kekuatan. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan Allah. Inilah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Subhanahu wa ta’a. la. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah.

Setiap muslim meyakini bahwa alam semesta ini, langit dan bumi, beserta segala isinya adalah ciptaan Allah, dan berada di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam ini kecuali Alla. Ini adalah bagian dari keyakinan mendasar bahkan fitrah yang telah Allah tanamkan dalam hati umat manusia.

Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah tauhid rububiyah. Keyakinan bahwa Allah Maha Esa dalam hal mencipta, mengatur, dan menguasai alam semesta. Umat manusia pada dasarnya telah mengakui hal ini dalam lubuk hati mereka, bahkan mereka yang musyrik dan kafir sekali pun mengakui hal ini. Jika mereka ditanya, siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka pasti menjawab Allah. Jika mereka ditanya siapa yang memberi rezeki, mereka menjawab Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

Keagungan Allah meliputi semua hal yang ada di dunia tanpa batasan waktu, lokasi, dan pembatas lain yang biasa terjadi pada manusia. Keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat mutlak. Al Quran menjelaskan;. salah satunya dalam surat Al Baqarah (2) ayat 255: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."

Tidak ada sumber kekuatan selain sumber kekuatan dari Allah. Memohon sesuatu kepada selain-Nya adalah perbuatan yang sia-sia. Tanpa ridho-Nya, tidak mungkin sesuatu akan terjadi. Bergantung kepada sesuatu yang akan hancur pada akhirnya akan membawamu juga kepada kehancuran. Bergantung pada sesuatu yang nista pada akhirnya akan membawamu juga kepada kenistaan. Mengharapkan sesuatu selain dari-Nya hanya akan menghasilkan kekecewaan.

Apabila kita telah sadar bahwa dunia dan segala isinya ini adalah milik Allah, dan Allah bisa mengatur alam ini sesuai kehendak dan hikmah-Nya, seperti apa pun yang Allah inginkan. Maka semestinya kita pun kembali sadar bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Karena hanya Allah yang mengatur alam raya ini. Allah pula yang menjamin rezeki seluruh manusia dan bahkan setiap binatang melata yang ada.

Bersandarlah hanya hanya kepada Allah, karena Sia sumber segala kekuatan. Jangan bersandar kepada kemampuan diri kita. Karena kita ini lemah dan Allah Mahakuat. Kita ini tidak mampu dan Allah Mahamampu. Kita ini tidak tahu sedangkan Allah Maha Mengetahui. Kitapun wajib memurnikan ibadah kita kepada Allah, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya.

Insya Allah, bila kita serahkan hidup ini dengan berbagai persoalannya kepada Allah dengan keyakinan yang mutlak hanya kepada-Nya, akan membuat hati menjadi tegar dalam menghadapi problem dan tantangan kehidupan. Sadarilah, kita adalah hamba yang memiliki keterbatasan. Dia-lah Yang Berkehendak atas diri kita, dan kita tidak akan pernah bisa merubah kehendak-Nya.

 

*****

 

 

Mengelola Masalah,Agar tak Bermasalah

Anwar Anshori Mahdum

Ibarat dua sisi koin mata uang, hidup dan masalah adalah sesuatu yang tdk terpisahkan. Berani hidup berarti harus berani pula menghadapi masalah, dan selama manusia itu hidup, maka selama itu pula masalah itu akan tetap ada. Intinya, masalah adalah bagian dari kehidupan. Namun hal ini bukan berarti bahwa kita harus membuat masalah, atau menjadi sumber masalah, akan tetapi kita wajib untuk menghadap masalah itu dan menyelesaikannya.

 Dalam dekapan masalah yang begitu berat menghimpit, terkadang hati kecil sering lirih berujar, “Ya Allah hanya untuk inikah Engkau menciptakan aku, entah berapa kali pintaku terucap diiringi linangan air mata yang kerap mengalir. Entah sudah berapa kali diri ini berharap akan datangnya perubahan dalam perbaikan, tetapi belum juga Engkau bukakan kepadaku pintu kemudahan.

Mungkin ungkapan itu terlontar karena kita belum membaca nasehat Rasulullah SAW ketika kita ditimpa musibah. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang dari kamu mengharapkan mati disebabkan oleh penderitaan yang menimpa padanya, maka apabila keadaan memaksa, maka berdo’alah: Ya Allah lanjutkanlah hidupku ini, selama hidup ini lebih baik agiku. Dan segerakanlah matikan diriku ini, apabila itu lebih baik bagiku “ (Muttafaq ‘Alaih )

Setiap manusia, dimanapun ia berada pasti berhadapan dengan masalah. Yang berbeda, hanya bentuk dan intensitasnya saja. Ada orang yang berhadapan dengan masalah yang ringan, tapi banyak juga yang berhadapan dengan masalah yang berat. Mulai dari masalah diri sendiri sampai kepada masalah yang menyangkut kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Pokoknya, tiada hari tanpa masalah.

Ada orang mampu menghadapi masalah, dan tak sedikit yang tak mampu serta lari dari masalah. Jangankan berharap untuk menyelesaikannya, malah menambah banyak dan rumit masalah yang harus diselesaikan. Masalah bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi dan diselesaikan dengan segera. Sebab, semakin ditunda penyelesaiannya maka masalah itu semakin sulit untuk diselesaikan.

Untuk menyelesaikan masalah dibutuhkan kesabaran. Hal ini penting agar masalah yang sedang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik. Kesabaran ini tidak hanya dalam bentuk kemampuan kita untuk menahannya, tapi lebih dari itu adalah bagaimana cara kita menyelesaikannya.

 Ada beberapa jurus atau trik untuk menyelesaikan masalah, di antaranya adalah:

Pertama, Cari sumber masalah tersebut.

Masalah yang timbul dari dalam diri kita sendiri hendaknya diselesaikan oleh diri kita sendiri. Sedangkan masalah yang berasal dari luar diri, kalau memang mengharuskan melibatkan orang lain, maka libatkan orang lain. Bila tidak perlu dan kita merasa mampu untuk menyelesaikannya, maka kita yang pertama menyelesaikannya. Setiap masalah yang timbul pasti ada penyebabnya. Mungkin itu karena kelalaian kita, mungkin juga sebab kekurangan kita, atau masalah itu timbul karena kesombongan kita. bila mendapatkan masalah, carilah penyebabnya. Sama seperti ketika kita mengendarai mobil atau motor, bila mogok segera cari penyebabnya, bukan mencaci-maki motor itu. Entah itu karena businya yang sudah mati, bannya kempes, atau masalah-masalah lainnya.

Begitu juga dengan masalah yang kita hadapi. Semua masalah tentu ada sumbernya, dan yang pasti semua masalah pasti bisa diatasi, yang penting kita mampu mencari apa penyebabnya. Masalah yang kita hadapi selama ini terasa berat sekali, walaupun sebenarnya sepele saja. Hal ini terjadi karena kita tidak menemukan akar permasalahannya saja.

Kedua, Batasi masalah tersebut agar tidak menimbulkan masalah baru.

Bila kita sudah menemukan akar masalah tersebut, segera batasi masalah tersebut. Ini berguna agar tidak timbul masalah baru, serta memudahkan kita dalam menyelesaikannya. Terkadang, suatu masalah sudah diketahui penyebabnya, tetapi karena kita tidak membatasi masalah tersebut sehingga menimbulkan masalah baru dan menyebar ke masalah lainnya. Untuk itu, pembatasan masalah harus segera dilakukan. Masalah-masalah sekecil apapun harus dibatasi. Sebab masalah besar biasanya dimulai dari masalah yang kecil.

Ketiga, cari alternativ penyelesaiannya.

 Setelah langkah pertama dan kedua sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya cari alternative penyelesaiannya. Alternative disini kalau bisa harus lebih dari satu. Maksudnya, apabila satu alternative yang satu tak mempan maka masih ada alternative lain. Alternative penyelesaian masalah didapat dari kemampuan kita untuk mengenali akar masalah serta kemampuan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Karena itu, untuk memudahkan kita perlu dioptimalkan langkah pertama dan kedua diatas.

Walaupun ada beberapa alternative penyelesaian masalah yang kita miliki, usahakan satu dari semua itu menjadi prioritas untuk mengatasi masalah. Maksudnya adalah agar kita mampu memfokuskan diri dalam menyelesaikan masalah tersebut. Alternative lain dimaksudkan sebagai pendamping saja. Kalau semua diprioritaskan ditakutkan tidak ada alternative yang benar-benar mampu untuk mengatasi masalah tersebut. Hal yang ditakutkan juga, bila tak ada prioritas alternative, maka jangankan untuk mengatasi masalah, malah menambah masalah baru. Bila sudah mampu menyelesaikan masalah janganlah lupa bersyukur. Dan bila tak mampu menyelesaikannya bertawakallah mungkin itu sudah menjadi takdir Allah SWT.

Keempat; Ambil pelajaran dari masalah tersebut.

Dibalik semua hal yang ada didunia ini mengandung pelajaran bagi umat manusia. Hanya saja, manusia terkadang tak mampu memetik pelajaran dari semua hal tersebut. Sekecil apapun masalah yang kita hadapai pasti ada pelajaran yang terkandung didalamnya.

Begitulah Allah swt  mengajari manusia dengan berbagai cara. Tidak hanya kenikmatan saja yang mengandung pelajaran, masalahpun demikian pula. Bahkan pelajaran dari masalah yang dihadapi terkadang lebih bermakna dibandingkan dari kenikmatan yang kita terima. Manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengambil pelajaran dari setiap langkah kehidupannya, entah itu dalam bentuk masalah atau kenikmatan dari Allah swt.

 Kesimpulannya; kita tidak bisa menghindari masalah. Karena masalah itu merupakan salah satu jalan untuk mendewasakan kita, serta menjadikan kita manusia yang sejati. Bagi kita yang selalu berhadapan dengan masalah, cintai masalah itu, karena lewat berbagai masalah itu Allah swt menunjukkan cinta dan sayang-Nya kepada kita.

Qum Fa andzir, Bangkitlah.

Hidup bukan hanya pergantian hari-hari, waktu dan keadaan. Tetapi di dalamnya harus kita isi dengan segala aktivitas yang berarti. Karena tidak ada satupun orang yang sukses, kecuali dia merebut dan menundukan waktu dalam bentuk penggalan-penggalan kegiatan, rencana dan target-target yang harus di raihnya. Tidak ada satupun yang dapat dicapai oleh manusia, kecuali harus melakukan aktivitas dan menumbuhkan kreativitas sehingga waktu yang terisi menjadi berkualitas.

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya epada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Qs. At-Taubah [9]:105

Allah telah memberikan peluang kepada kita untuk menjadi pemenang dalam melawan kerasnya kehidupan. Dan tidak mungkin Allah membebani kita dengan beragam cobaan dan ujian, kecuali telah Allah persiapkan kekuatan untuk menangkalnya. Lihat, bagaimana Islam mendorong kepada pengikutnya agar memiliki semangat berkompetisi (fastabiqul Khairat). Atau Islam juga mengharapkan kita untuk tampil sebagai ummat terbaik (Khairu Ummah). Dan untuk mewujudkan semua keinginan itu, Allah telah memberikan kita pasilitas kehidupan.

Orang yang mempunyai keberanian menghadapi resiko kebanyakan tenang dan tidak di hantui rasa was-was, khawatir dan cemas. Mereka menyadari bahwa hidup memang selalu di hadapkan pada masalah yang di belakangnya penuh resiko.

Orang-orang besar yang hidup sebelum kita memiliki kesulitan yang jauh berat dibanding dengan yang kita hadapi saat ini. Diujung kegelapan pasti akan ada cahaya yang membawa kita keluar dari berbagai permasalahan menuju secercah harapan untuk hidup lebih baik. Janganlah kita takut menghadapi kesulitan karena kesulitan dan permasalahan hidup akan membuat kita kuat. Setiap kita yang terjatuh, segeralah bangkit dan mohonlah kekuatan kepada Allah.

Insya Allah jalan keluar segera kita dapatkan dan kesulitan akan segera lenyap dan berganti dengan kemudahan. Selalu ada cahaya di balik kegelapan, selalu ada kemudahan di setiap kesulitan, dan selalu ada harapan di setiap ketidak pastian. Selalu ada jalan keluar dan solusi, terus saja bergerak, kesedihan akan segera hilang dan berubah dengan kebahagiaan.“.. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS.Al-Insyirah Ayat 5-6)

JIka kita memahami pesan Allah ini, Insya Allah hidup akan dipenuhi dengan harapan dan semangat hidup yang terus menyala. Jika engkau membuat satu kesalahan atau mendapatkan satu kegagalan, janganlah berhenti berusaha. Karena kesalahan dan kegagalan dalam hidup itu biasa, yang terpenting segera bertaubat dan jangan takut untuk terus mencoba, karena kegagalan awal dari satu keberhasilan. Kesalahan dan kegagalan yang sesungguhnya adalah saat engkau menyerah dan berputus asa.

Hidup itu selalu dinamis. Ada suka, ada juga duka. Ada bahagia dan kadang sedih. Semuanya sudah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pasti bahwa menghadapi kondisi demikian harus tetap tabah dan penuh tawakkal. Ketika Allah melarang manusia berputus asa, itu artinya Allah sudah menjamin pasti ada harapan dan jalan keluar bagi setiap permasalahan. Itulah mengapa selalu ada fitrah jalan keluar dalam setiap pemecahan masalah, yaitu berupa jalan yang semakin mendekatkan diri manusia kepada ajaran-Nya.

Qum Fa andzir, 

Bangunlah dan berilah peringatan. Jangan biarkan diri terus berada dalam kelemahan. Bangkitlah, jangan hinakan dengan kesia-siaan. Gubah dunia dengan prestasi dan jadikan hidup lebih berarti. Buang keraguan yang mengungkng diri, ambil keputusan yang terbaik jika ingin menjadi orang baik-baik. Orang yang benar adalah orang yang selalu menyadari hakekat untuk apa ia diciptakan. Ia tidak menyia-nyiakan waktu hidupnya sekejappun kecuali untuk beribadah kepada Allah. Sebab ia sadar betul, bahwa karena alasan itulah (ibadah) ia diciptakan.

 

KOSONG


 


Anwar Anshori Mahdum


        Jika sebuah gerak tidak di landasi iman ia adalah kesia-siaan,                     jika tidak di landasi dengan amal maka ia kehampaan,                            dan jika tidak di landasi dengan ilmu pengetahuan                   ia adalah kekosongan, artinya tidak bernilai.

 



Membangun Jiwa Positif

Anwar Anshori Mahdum

Orang yang cerdas tidak akan membiarkan buruk sangka mendapat tempat dihati dan fikirannya, sebaliknya orang yang cerdas akan selalu membangun husnudzan/baiksangka berkembang subur untuk membangkitkan energi positif mengalir deras mengikuti langkah kehidupannya.

    Perasaan positif akan menimbulkan energi positif dan perasaan negatif akan menimbulkan energi negatif. Perasaan positif sangatlah penting untuk dilembagakan dalam diri manusia karena akan memberikan energi positif untuk meraih apa yang disebut kebahagiaan. Apabila kita senantiasa berburuk sangka maka kita akan mudah menjadi gelisah, putus asa, pesimis, tersiksa, depresi dan berkecil hati, banyak sekali tentunya energi negatif yang akan bermunculan dalam diri kita.

    Mungkin banyak hal yang menjadi keinginan atau harapan dalam hidup kita. akan tetapi, semua hal yang kita impikan belum tentu semuanya akan jadi kenyataan. Terkadang kita tidak mampu untuk mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan, namun hanya terus memandang ke depan demi mengejar semua yang kita cari. Pada saatnya kita jatuh, kita mengalami situasi yang benar-benar tidak mengenakan, pahit, pedih, dan sungguh menyakitkan. semua hal yang menjadi obsesi kita seolah-olah hilang dan menjadi puing-puing tak beraturan.

    Cobalah untuk merenung, menunduk dalam, menghayati segala langkah dan perjuangan yang telah dilakukan, lalu mendongak setinggi-tingginya ke atas, melihat langit dan pejamkan mata, bahwa ada Allah yang selalu menemani, mengiringi, dan membimbing arah kita. Tanamkan dalam hati bahwa segala yang kita lakukan adalah bukan untuk kesia-siaan. Segala yang kita kerjakan adalah sebuah langkah menuju perubahan.

    Tak pantas kita menyerah hanya karena tak mendapat apa yang kita harapkan, percayalah bahwa Tuhan punya segala yang kita cari, namun belum tentu segala yang kita inginkan adalah yang terbaik buat kita, mungkin Tuhan menunda, mengganti, atau akan memberi yang lebih baik dari apa yang kita inginkan. Selalu ber-husnudzon, atau positif thinking atau berbaik sangka kepada Tuhan karena itu adalah salah satu hal yang bisa mengubah takdir kita….

    Berpikir positif adalah selalu berbaik sangka kepada Allah yang menentukan hidup kita. Sifat ini akan membentengi kita dari rasa takut dari apapun yang terjadi. Terutama terkait dengan hal-hal yang terasa memberatkan diri, seperti saat menyikapi setiap kegagalan misalnya.

Orang yang optimis menjalani hidup, tertanam dalam jiwanya keyakinan yang sempurna tentang segala yang di tentukan Allah. Jika Allah berkehendak terhadap sesuatu maka tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. Rasulullah pernah memberi nasehat kepada Ibnu Abbas ketika itu ia masih kecil: “Ketahuilah, sekiranya seluruh manusia sepakat hendak mencelakaimu,mereka tidak akan pernah bisa mencelakaimu, kecuali memang telah di tuliskan Allah dalam suratan takdirmu. Begitupun sebaliknya, andai seluruh manusia sepakat menolongmu mereka tidak akan pernah mampu membantumu, kecuali memang telah di tuliskan Allah dalam suratan takdirmu.” ( Hr. Tarmidzi).  

    Perubahan, selain memerlukan sifat positif dan optimisme yang tinggi. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah kesabaran, tidak ada kunci yang mampu membuka perubahan selain kesabaran itu sendiri. Tetapi menjadikan diri sabar memang tidalah mudah, karena orang yang sabar pada hari ini ibarat memegang bara api. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya: 

    “Sesudah kalian, akan ada hari-hari di mana kesabaran di uji. Orang yang mampu bersabar tidak ubahnya dengan seseorang yang memegang bara api. Barang siapa yang beramal kala itu, maka akan di ganjar dengan balasan lima puluh orang.“. Apakah ganjaran lima puluh orang mereka atau lima puluh orang kami, ya Rasulullah. Tanya seorang sahabat. “Bahkan, ganjaran lima puluh orang  kalian”. Jawab Rasulullah.

Jangan Tertipu Dengan Penglihatan Lahir

 

Anwar Anshori Mahdum

Jangan Tertipu Dengan Penglihatan Lahir

Sejak dahulu hingga hari ini, berbagai pergulatan dan hidup terus dilakukan demi sebuah kebahagiaan. Bila perlu nyawa taruhannya! Tetapi ketahuilah, sejauh apapun kita melangkah untuk mengejar kebahagiaan tak akan pernah kita dapatkan, kalau tolok ukurnya adalah keduniaan. Sebab sifat dunia tak pernah memberi kepuasaan. Dan ketidak puasan itulah faktor utama penyebab ketidakbahagiaan. Rasulullah menyinggung dalam khutbahnya:

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Jangan tertipu dengan penglihatan lahir. Karena dunia ini hanyalah perhiasan dan sandiwara. Tidak menutup kemungkinan, dibalik kemewahan hidup yang terlihat ada rasa ketakutan yang sangat. Di balik senyum dan tawa akrab ada kepahitan dan kesedihan yang tidak kita ketahui. Mungkin tawanya hanya untuk menutupi kegundahan perasaannya. Banyak orang yang bibirnya tersenyum tapi hatinya menangis. Tidak sedikit orang yang terlihat diam dan tenang tetapi jiwanya tertekan. Begitu banyak pemandangan terlihat sepintas menyenangkan padahal sebenarnya menyedihkan. Banyak orang menyangka dikiranya madu, ternyata ia adalah empedu. Dan tidak sedikit laknat dikiranya nikmat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah menulis; “(Ciri khas) orang yang berakal adalah melihat hakikat (sesuatu), tidak terjebak dengan zahirnya”.

Memang alam lahir lebih cenderung kepada godaan hawa nafsu yang selalu menggoda manusia dan mengantarkan hamba-hamba Allah yang lalai kepada kebinasaan. Sedangkan alam bathin selalu memberi arah kepada kebaikan, pendidikan dan peringatan dan mendekatkan hamba-hamba Allah kepada kemuliaan.

Setan dan hawa nafsu mengarahkan manusia kepada tipuan lahir kadang-kadang membuat manusia terpesona oleh keindahan lahir itu. Membuat hamba-hamba Allah melihat benda lahir sebagai sesuatu yang sangat menarik dan sangat indah, membuat manusia ingin menikmati buah dari keindahan lahir tersebut.

Manusia begitu cenderung kepada barang lahir, lalu menjadi orang yang tertipu dan bersimpuh di bawah pandangan lahiriah. Ia pun terbelenggu dan mabuk dalam manisnya benda lahiriah dan tidak terasa menjadi orang yang lupa dan terhina.

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Qs. Alhadiid [57];20)

Hiasan lahiriah itu memang sangat menakjubkan. Orang mudah tertipu oleh penglihatan lahiriah dan mengira itulah penglihatan yang benar. Adapun manusia yang waspada dan mata hatinya dapat melihat dan membedakan mana benda tipuan dan mana yang hak, tidak akan tertipu dan mengikuti godaan setan dan hawa nafsu. Mata hati nuraninya mampu melihat dan membedakan gerakan dan peringatan serta tanda dan isyarat lahiriah, mengetahui sesuatu yang akan terjadi, maka ia pun menghindar dari situasi yang sedang ada di hadapannya.

Orang yang memandang dunia ini dengan kaca mata batinnya adalah orang yang memahami arah yang akan ditempuhnya. Ia tahu mana yang lebih bermanfaat baginya dalam pandangan dunianya, sehingga ia memilih dan menyaring pandangannya terhadap dunia.

Dunia adalah medan permainan antara yang hak dan yang batil. Orang seperti ini tidak terlalu mempercayai penglihatan lahiriah. Karena ia memahami tipuan lahir itu sangat menyakitkan. Ia lebih percaya pada pandangan batinnya yang lebih banyak memberi pertimbangan dan peringatan baginya sebelum bertindak.

Lantas, dengan apa kebahagiaan itu didapatkan?. Banyak orang menganggap bahwa sumber kebahagiaan hanya terletak pada apa yang kita miliki, seperti: kekayaan, pangkat dan jabatan, prestasi pendidikan (gelar kesarjanaan) atau kemasyuran (politik, seni, olah raga dsb). Tetapi realitasnya, semua itu  sering menjadi beban para pemiliknya.

Contoh yang sangat dekat dengan masalah ini adalah kisah tentang seorang yang sangat sukses dalam mengumpulkan harta benda, ia adalah Qorun. Ia merupakan contoh khas tentang orang kaya yang kekayaannya menjermuskannya kedalam kebanggaan dan kesombongan, ia lupa akan peran kekayaan dalam kehidupan manusia. Ia hidup pamer dan mewah, hampir semua orang masa itu mengagumi kecemerlangan penampilannya, tetapi melupakan kenyataan yang sesungguhnya, bahka semua itu adalah kebahagiaan semu.

Lantas bagaimana akhir dari perjalanan Qorun. Apa yang terjadi dengan kesombongan, kekayaan, kebanggaan dan sikap takaburnya itu?. Allah sampaikan kabar tentang qorun dalam al-Qur’an:

“ Maka Kami benamkanlah qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Qs. Al-Qoshosh [28]:81

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah pernah kedatangan sahabat Umar, saat itu beliau tengah duduk di atas tikar kasar yang menggurat bekas di badan beliau. Spontan Umar pun bertanya kepada beliau, “Wahai baginda Nabi! Kenapa engkau tidak memilih kasur yang lebih empuk dari tikar ini? Rasulullah pun menjawab, “Kenapa aku mesti menyibukkan diri dengan dunia? Perumpaman antara aku dan dunia adalah seperti seseorang yang melakukan perjalanan di tengah hari di musim panas. Lalu ia istirahat sambil berteduh di bawah sebuah pohon tidak seberapa lama. Kemudian melanjutkan perjalanannya kembali seraya meninggalkan pohon itu” (H.r. Ahmad dan Hakim. Hadis ini sahih berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim).

Perhatikanlah, dunia seperti sebuah pohon yang dijadikan tempat berteduh oleh orang-orang yang melakukan perjalanan jauh di bawah terik matahari. Tentunya, waktu untuk beristirahat di bawah naungan pohon itu sangat singkat dan sebentar; karena ia harus melanjutkan perjalanan. Seenak dan serindang apa pun pohon itu tetap harus ditinggalkan. Jadi, untuk apa ngotot dan “ngoyo” mengejar dunia. Toh nantinya juga akan ditinggal juga, seindah dan seelok apa pun dunia itu.



Amalan Tergantung Akhirnya

Anwar Anshori Mahdum Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapankah kita akan meninggal, dan dengan cara ...