Jumat, 23 Agustus 2024

Berpikirlah Yang Realistis

Anwar Anshori Mahdum

 Dalam hidup ini kita sering kali menginginkan sesuatu, tapi terkadang sesuatu itu tidak realistis, sehingga menyebabkan diri menjadi stres karena tidak tercapainya keinginan tersebut. Tidak ada cara yang paling mudah menghilangkan stres kecuali mengurangi keinginan untuk memiliki segala-galanya. Al-Quran dalam surat Thaha:124 menggambarkan situasi stres dengan kalimat, “Dadanya dijadikan sesak dan sempit, seperti orang yang terbang ke langit”.

Maka berpikirlah dengan realistis, karena dengan sikap seperti ini, kita akan dapat mengangkat berbagai kepingan peristiwa yang memuat derita dan bencana dalam kehidupan sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berlebihan. Dan berpikir realistis dalam menyikapi penderitaan merupakan lumbung inspirasi untuk menghadirkan kesadaran yang lebih mendalam tentang setiap aspek kehidupan.

Seorang filosof  berkata: “Bahwa kita adalah seperti apa yang kita pikirkan. Kehidupan manusia adalah penjelmaan dari pikiran-pikirannya sendiri. Oleh karenanya, jika kita menghendaki ketenangan dan kegelisahan, maka kita harus mengembangkan penguasaan terhadap pikiran-pikiran kita yang menunjuk kearah kemantapan jiwa yang menaklukan kecemasan.

Jika saja kita mau sedikit bersabar menghadapi berbagai fenomena kehidupan. Dan berpikir realistis tentang berbagai hal. Kita pasti akan mendapat solusi dari berbagai permasalahan. Persoalannya adalah terkadang kita terlalu cepat memfonis segala sesuatu yang datang kepada kita, tanpa mencoba melihat ke belakang kehidupan kita. Dan mengapa rasa derita itu kerap menghantui? Karena seringnya kita terlalu mudah memandang sebuah peristiwa adalah penderitaan.

Kita terlahir sebagai manusia lengkap dengan segala kesempurnaannya. Namun masih ada diantara kita merasa sebagai orang yang kurang beruntung. Umumnya, bila kita gagal dalam satu hal kita merasa sebagai orang yang bodoh. Kita sering merasa tidak pintar untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Mungkin lingkungan kita yang membuat kita tidak mampu mengembangkan semua potensi kecerdasan tersebut. Atau ada faktor lain yang membuat kita tak mampu mengenal jenis dan potensi kecerdasan yang kita miliki. Akhirnya, kita terlihat seperti orang bodoh, terkebelakang, miskin, kalah, dan sebagainya.

Segala kekurangan yang dimiliki secara fisik, tak bisa menjadi alasan bahwa kita tak mampu berprestasi. Banyak orang yang secara fisik terbatas, tetapi dari segi psikis mereka mampu menorehkan prestasi yang luar biasa. Banyak orang yang bisu, tuli, pincang, gagu, buta, dan kekurangan lainnya, tapi mampu menjadikan kekurangan itu sebagai pemacu semangat untuk maju dan berkembang. Banyak diantara mereka yang mampu menghasilkan sesuatu yang menakjubkan dunia.

Jadi, yang harus disadari oleh kita, tak ada yang bodoh, yang ada adalah kita tak tahu apa kelebihan dan kekurangan diri kita. Artinya, kita belum kenal dengan diri kita. Jangan pasrah, jangan bersedih, jangan rendah diri, jangan putus asa. Kita semua cerdas, kita semua pintar. Kita mampu berprestasi. Berprestasi sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan yang kita inginkan.

Belajar Dari Pengalaman

Anwar Anshori Mahdum
 

Ada ungkapan dalam bahasa inggris yang sangat popular, yaitu; Experience is the best teacher "Pengalaman adalah guru terbaik".  Pengalaman dapat merubah seseorang menjadi lebih baik. Pengalaman dapat menuntun seseorang untuk belajar berfikir dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Pengalaman juga merupakan proses pendewasaan diri seseorang.

Pengalaman pahit menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan kita, misalnya tidak dihargai, dilecehkan, difitnah, disakiti, gagal, dan lain sebagainya. Namun pengalaman terpahit sekalipun dapat menjadi titik tolak mencapai puncak kejayaan dan kebahagiaan jika kita memiliki kekuatan memperbaiki diri terus menerus.

Salah satu manfaat jika kita selalu memperbaiki diri adalah mampu mengantisipasi kejadian buruk menimpa kita. Dengan terus memperbaiki diri, keadaan kita sudah siap atau bahkan lebih baik, ketika muncul sinyal segala sesuatu menjadi sulit. Kekuatan memperbaiki diri akan membantu kita menyesuaikan diri dengan perubahan terkecil sekalipun, sehingga tidak sampai terjerembab dalam kesulitan yang lebih besar.

Beberapa tips berikut ini mungkin dapat membantu kita membuka kunci kekuatan perbaikan diri.

Pertama, Milikilah cita-cita dan komitmen untuk mencapainya, sebab cita-cita akan menjadi daya atau semangat juang bagi kita. Hidup tanpa visi laksana berlayar tanpa tujuan, terasa hampa dan hidup ini sama sekali tak berguna.

Kedua, Yakinlah pada visi kita. Mengutip kata Pablo Piccaso, seorang pelukis asal Spanyol, "Sesuatu yang dapat kamu bayangkan adalah nyata." Sehingga bila kita yakin, maka kita tidak mudah menyerah melakukan tindakan-tindakan positif agar visi kita segera tercapai, misalnya; ingin langsing dengan rajin olah raga, ingin pintar dengan rajin membaca, ingin lebih dermawan dan dicintai banyak orang dengan membantu lebih banyak sesama, ingin lebih sukses dengan berusaha lebih keras dan lain sebagainya.

Ketiga, Pertajam kegigihan. jangan mudah menyerah ketika menghadapi banyak tantangan atau selalu menghadapi kegagalan. Kegigihan akan mendorong kita untuk memperbaiki diri terus menerus.

Keempat, Cintai diri sendiri, Lupakanlah keinginan untuk menjadi orang lain, dengan meningkatkan kualitas, kemampuan, dan kebaikan. Dengan begitu, kekurangan kita tak akan lebih menonjol dibandingkan prestasi, kontribusi, dan kemampuan yang kita miliki.

Masih banyak lagi cara untuk membuka kunci kekuatan perbaikan diri. Namun yang terpenting adalah motivasilah diri kita untuk terus melakukan perbaikan, sebab perubahan besar akan selalu berawal dari dalam diri sendiri. Ketika kita sudah menikmati setiap proses memperbaiki diri, berarti kita juga telah memiliki kemampuan menjadikan segala sesuatu indah, membanggakan, dan membahagiakan.

Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa yang kita alami dalam hidup adalah sebagai suatu akibat dari apa yang telah kita usahakan dan perjuangkan sebelumnya. Bila kita mengusahakannya dengan cara yang salah, tanpa perencanaan matang dan pertimbangan cermat, maka kita akan menuai hasil atau kenyataan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitupun sebaliknya, bila kita mengusahakannya dengan cara yang benar, perencanaan matang dan pertimbangan yang cermat, maka kita tinggal menunggu sesuatu yang menyenangkan itu datang pada diri kita.

Kamis, 22 Agustus 2024

Tak Ubahnya Seperti Robot

Anwar Anshori Mahdum

Semua yang ada di alam ini adalah tontonan. Datang lalu pergi, disukai lalu dibenci. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini. Oleh karena itu, seutama-utamanya manusia ialah orang yang memilih kekekalan daripada kefanaan, memilih yang abadi dari pada yang musnah. Itulah orang yang tidak tertipu oleh keindahan duniawi, sehingga tidak terkurung dalam penjara materi yang menghancurkannya. Realita menunjukkan, berapa banyak orang yang memiliki materi yang melimpah tetapi ia tak merasa bahagia. Dan berapa banyak orang yang memiliki materi yang sedikit tetapi ia bahagia. Imam Ali pernah memberi nasihat: “Orang yang serakah adalah tawanan dari kehinaan yang tak berkesudahan.”

Betapa jelas kita saksikan lautan manusia bergumul dan tenggelam dalam mengumpulkan harta kekayaan. Modernisasi telah menjadikan kita manusia yang bersikap materialistis dan individualistis. Kita tak ubahnya seperti robot, menjadi mesin yang secara ritual terikat oleh kegiatan-kegiatan yang monoton. Kebanyakan kita telah kehilangan rasa kemanusiaan, rasa sayang bahkan toleransi antar saudara. Sebagai gantinya kita mengembangkan sifat kasar dan egois. Bahkan untuk memperoleh keuntungan material, kita sudah tak lagi sempat memperhatikan keluarga kita sendiri.

Ketamakan akan dunia ini memang sudah di singgung oleh Rasulullah, beliau berbicara tentang satu masa dimana ummat manusia akan terjangkit sebuah penyakit yang mematikan, yaitu penyaki Wahn, Penyakit Wahn adalah suatu ungkapan yang bermaksud cinta dunia dan takut mati. 

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا  فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ . فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ  حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa telah bersabda Rasulullah SAW: “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya “apa saat itu kita sedikit?” jawab beliau “bahkan saat itu kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih di laut. Allah akan cabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn dalam hatimu.” Seseorang bertanya “Ya Rasulullah ap aitu wahn?” beliau menjawab “cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

Inilah fitnah akhir zaman yang sangat mengkhawatirkan; yaitu merebaknya ideologi materialisme. Bahwa materi, harta kekayaan atau jabatan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang berarti ia dipandang sebagai orang yang mulia, dan semakin sedikit materi atau harta yang dimilikinya berarti ia dipandang sebagai orang yang hina dan tidak patut dihormati. Naudzubilahi min dzalik.

Di tengah hegemoni materialism yang mengkhawatirkan, kita sangat bersyukur, karena kita masih memiliki sandaran dalam menata kehidupan. Islam hadir sebagai salah satu agama yang mengajarkan tentang pentingnya menata keimanan, mempertahankan ketaqwaan. Dan Islam juga hadir sebagai agama solusi atas carut marutnya system kapitalisme yang merupakan konsep kejahiliyaan modern. Islam mengajarkan manusia untuk mensucikan jiwa melalui ibadah-ibadah yang menenangkan hati dan mendekatkan dengan Sang Khaliq. Dan semua kekhawatiran itu hanya bisa diantisipasi dengan menyempurnakan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Inilah mengapa takwa yang menjadi tolak ukur kemulian manusia di hadapan Allah Swt. Sebab orang yang bertaqwa tidak hanya mementingkan kebutuhan dirinya untuk sesaat akan tetapi jangka panjang, orang yang bertaqwa tidak hanya mementingkan akhirat akan tetapi mensejajarkan kehidupan dunia dan akhirat, dunia baginya  sebagai jembatan menuju akhirat yang kekal dan abadi, dan hamba yang bertaqwa memiliki visi dan misi jangka pajang.

Mari senantiasa kita tingkatkan kualitas amal ibadah dan kadar ketaqwaan kita untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari urgensi makna taqwa, kemudian kita implementasikan di dalam tatanan kehidupan sehari-hari, sehingga kita benar-benar memperoleh kemulian baik kemuliaan di dunia maupun kemuliaan di akhirat kelak, begitu pula kemulian di mata manusia terlebih lagi di mata Allah SWT.


Terkurung Dalam Penjara Materialisme

Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari kesenangan dan kekayaan  merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Paham ini mengesampingkan nilai nilai rohani, bahkan tidak mengakui adanya budaya immaterial atau adanya “Tuhan”. Contoh: seseorang dengan pekerjaan, jabatan yang bagus ia percaya hanya dengan itulah yang bisa menghidupinya. Dalam contoh ini orang tersebut hanya semata mata mencari dan mementingkan materi tanpa mengingat Tuhan, dia lupa bahwa pekerjaan, jabatan, rezeki Tuhanlah yang mengatur.

Begitu kuatnya mereka terikat dengan kecintaan kepada materi, hingga para pemikir humanisme barat sekitar abad ke-19 dan awal abad ke-20 berani menyatakan,”Singkirkan Tuhan dari kaidah moral, dan gantikan dengan kata hati, sebab manusia adalah makhluk yang punya kata hati yang melawan moral bawaan.”

Dalam sebuah masyarakat yang berideologi materialisme, seseorang menjadi sangat iri dan berambisi menjadi kaya setiap kali melihat ada orang yang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong muncul berbagai tindakan yang amoral. Seperti yang di jelaskan Ibn Khaldun, beliau menyatakan:“Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat di kalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Karena itu agama hanya dijadikan komoditas, sebuah kepentingan bagi pemenuhan hidup manusia. Agama kemudian ditundukkan untuk pemuasan kebutuhan material semata. Akibat dari semua itu, hampir seluruh masyarakat dunia masuk dalam perangkap materialisme, tidak terkecuali dunia islam.

Orang yang berakal sehat tidak akan tenggelam dalam penjara materialisme. Mereka sangat memahami bahwa kebahagiaan bukanlah diukur dari berapa banyak materi yang diperoleh. Sedikit lebih baik bila disyukuri, daripada banyak tetapi dikufuri.

Mereka yang sedang terkurung dalam penjara materi sesungguhnya memahami bahwa kesenangan dunia ini bila dipakai akan berkurang dan bila dibiarkan akan hilang. Bahkan mereka pun sering menyaksikan atau mungkin merasakan, semakin banyak dunia yang didapat dan dimiliki maka akan semakin berat mempertanggungjawabkannya. Semakin kuat kita mengejarnya maka akan semakin lelah dibuatnya.

Syaikh Ahmad Atha’illah dalam kitab “Al-Hikam” mengungkapkan ”Sesungguhnya bangunan wujud (dunia) ini akan rusak sendi-sendinya, dan akan musnah semua kemuliaan (kebesarannya).” Itulah dunia, tidak kekal karena memang sifatnya fana, yakni sementara dan cepat rusak juga membosankan. Kalau sudah tidak suka dibuang menjadi barang yang tidak berharga, itulah dunia. Rasulullah bersabda: 

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرْكِ دُنْيَا هَ لآخِرَتِهِ حَتَّى يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا فَاِ نَّ الدُّ نْيَا بَلاَعٌ اِلَى اْلآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَلاًّ عَلَى النَّا سِ (رواه ابن عساكرعن انس

Bukan orang yang terbaik diantaramu orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya dan yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, sesungguhnya dunia ini bakal ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

Hadist ini menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan disamping kehidupan di akhirat. Islam tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia. Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” [QS. Asy-Syûrâ [42]:20]


Berakhirnya Peran Kehidupan

Anwar Anshori Mahdum
 

Setinggi apapun kita mendaki, pada waktunya akan turun. Sepanjang apapun perjalanan, pasti kita akan kembali. Dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada. Sesuatu yang kita kumpulkan satu saat akan hilang, yang kita makan jadi sampah, yang kita pegang akan lepas. Itulah diantara kenyataan hidup yang pasti akan kita lalui. Hampir setiap saat kita mendengar berita kematian, hampir setiap hari manusia mengantar jenazah ke kuburan. Namun semua itu jarang menggetarkan hati kita. Seolah-olah kematian hanyanyalah rutinitas yang biasa. Padahal orang-orang sholeh terdahulu, jangankan menyaksikan kematian, ketika melewati sebuah kubur saja mereka menangis.

Kematian adalah keniscayaan bagi kita yang hidup. Kekuatan sebesar apapun, kekuasaan setinggi apapun atau benteng yang kokoh setebal apapun tidak akan bisa menahan kematian jika Allah telah tentukan waktunya: Lihatlah kisah ummat terdahulu dan jadikan mereka pelajaran buat kita hari ini. Bagaimana kesudahan mereka?, sejarah mencatat mereka untuk mempertegas pastinya kematian itu. Seperti

> Firaun yang kuat dan memiliki kekuasaan besar hingga mengaku sebagai tuhan. Akhirnya tunduk pada kematian dan tidak mampu berbuat apa-apa saat ajal menjemputnya.

> Namrud yang pongah akhirnya tergilas oleh roda kematian, tanpa dapat mengundurkan meski hanya sesaat.

Abu Jahal yang sombong dan merasa serba bisa akhirnya mengakhiri kesombongannya saat kematian menemuinya dalam perang badar.

Atau orang-orang mulia sekalipun yang Allah pilih menjadi hamba-hamba yang beriman, tetap tidak bisa menolak kematian ketika ia datang, lihatlah:

        > Nabi Sulaiman yang diberi kekuasaan luar biasa, hingga mampu menguasai manusia dan jin serta mengerti bahasa hewan, tidak dapat menolak kematian yang menghampirinya.

        >  Nabi Ibrahim kekasih Allah pun pasrah saat kematian menjemputnya dan tidak bisa berbuat banyak.

        > Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi  wasallam kekasih Allah dan sangat disegani oleh para malaikatpun tunduk dengan sunatullah ini. Dan masih banyak manusia-manusia  sholeh yang mempunyai jasa bagi dunia telah meninggalkan dunia fana ini, meski keharuman nama mereka masih tercium wangi hingga saat ini.

Kematian pasti menghampiri, tak dapat di ketahui datangnya, datang tiba-tiba dan tidak dapat di undur atau di majukan. Kematian mengakhiri peran kehidupan terhadap orang-orang yang mendahului kita. Akan datang masanya ia pun menghampiri kita.; Tiap-tiap umat memp barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. . (Qs. Al-A’raf  [7] 34)

Dengan mengingat kematian manusia beriman semakin meningkatkan keimananya, manusia yang durhaka dapat segera sadar dari kedurhakaannya, manusia malas beramal akan segera mengejar ketertinggalannya. Dengan mengingat kematian kesadaran akan terbangun, fitrah kembali suci, jiwa menjadi jernih, prilaku menjadi terkontrol, waktu ter unyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya manfaatkan secara efektif, potensi tersalurkan pada hal-hal yang maslahat dan akal menjadi cerdas.

 

Langit Tak Selamanya Mendung


 Setiap kita suka atau tidak suka harus mampu menghadapi apapun persoalan yang tidak kita sukai, kerena sejauh apapun kita berlari untuk sembunyi, semua itu tidak akan merubah ketetapan Ilahi. Yakinlah, bahwa langit tak selamanya mendung, awan kelabu pasti berlalu. Sesunggunya hidup kita ini tak lain hanyalah perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan, ada suka dan duka dalam kehidupan dan pasti ada kemudahan bersama datangnya kesulitan.

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Qs.Alam Nasrah” [94]: 5-6.)

 Para ahli tafsir mengomentari ayat ini, “Ayat ini merupakan kabar gembira yang sangat besar. Bahwa setiap di jumpai kesulitan dan kesusahan, maka kemudahan selalu mendampingi dan menemani kesulitan itu, hingga meskipun kesulitan itu masuk ke lubang biawak, maka kemudahan juga akan masuk kedalamnya, sehingga muncul jalan keluar.

Ketahuilah bahwa kesulitan itu tidaklah abadi, ia akan berganti setelah masanya tiba. Dan hal ini merupakan sunatullah yang senantiasa berjalan demikian. Insya Allah, dengan berpegang dengan keyakinan ini, kita akan mampu menyikapi setiap persoalan dengan lebih baik. Bukankah seorang muslim adalah hamba-hamba yang menakjubkan dari segi sikap dan keadaan. Sebagaimana Rasulullah bersabda: 

“Sangat menakjubkan urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya selalu menjadi kebaikan baginya. Tidaklah hal itu terjadi, melainkan hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia memperoleh kebaikan, dia bersyukur, lalu syukur itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa musibah , dia bersabar, lalu sabar itu menjadi kebaikan baginya”. ( Hr. Muslim )

Pikirkan, renungkan dan bersegeralah intropeksi diri saat musibah datang menghampiri. Dan lakukan beberapa usaha agar musibah yang datang tidak menjadi beban keputusasaan, tetapi menjadi inspirasi harapan yang mengagumkan. Diantara kiat yang mungkin harus kita lakukan adalah; Kuatkan tekad untuk membasmi keraguan. Bersabar atas setiap keadaan. Karena sabar adalah ruh keimanan dan pangkal kebaikan.. 

Dari Anas Bin Malik ra. Rasulullah bersabda: “Besarnya pahala tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya apabila Allah menyenangi suatu kaum, Dia mengujinya. Barang siapa yang ridho maka Allah ridho, dan barang siapa yang marah, maka Dia marah ( Dihasankan oleh Al-Bani, Shoheh Ibnu Majah).

Seandainya Kita Bisa Memilih

Anwar Anshori Mahdum

Umur adalah kumpulan tahun-tahun yang merupakan rangkaian hari demi hari. Satu hari 24 jam. Satu jam kemudian dirajut oleh hitungan detik, dan setiap detik di hela oleh nafas. Andai setiap nafas yang masuk ke paru-paru adalah kotak yang harus kita penuhi. Atau mungkin nafas yang keluar merupakan kunci yang menutup kotak-kotak tersebut. Pada hari kiamat kotak-kotak umur kita akan dibuka, kotak pertama kita ternyata kosong, kedua juga kosong, kotak ketiga penuh dengan gosip. Kotak keempat berisi hal-hal yang tidak berguna. Kotak selanjutnya kembali kosong. Apa yang kita lakukan saat itu. Ingin kembali kedunia?, agar kita mampu mengisi kotak-kotak  ‘kesempatan hidup’ kita dengan amal sholeh!, rasanya tidak mungkin. Hanya penyesalanlah yang kita dapati sepanjang waktu.  

Iman Hasan Al-Basri berkata: Engkau adalah nafas-nafas dan hari-hari. Bila nafas dan harimu telah pergi, sungguh sebagian dirimu itu pergi. Bila engkau telah kehilangan sebagian dirimu, maka seluruh dirimu dengan mudah akan pergi.

Ketahuilah, Warna hidup kita sangat ditentukan dari pilihan-pilihan dan bagaimana cara kita menyikapi hidup. Warna hidup selalu berpariasi dalam setiap episode. Hidup yang dipenuhi keceriaan pada suatu hari, maka akan datang kedukaan yang panjang pada hari yang lain. Terkadang kita bisa tertawa karena bahagia, kadang juga ada tangis karena kecewa. Kenikmatan yang sekejap akan datang kesedihan yang panjang. Tidak ada yang menyangkal beragam musibah dan penderitaan harus terjadi di dunia ini. Sebuah keniscayaan yang tidak mungkin kita elakan. Akal pikiran dan lubuk hati mengakui betapa dunia yang kita singgahi ini begitu akrab dengan musibah. Setiap kenikmatan yang di reguk di dunia selalu berdampingan dengan penderitaan atau kesengsaraan. Itulah ujian Allah kepada hamba-Nya. Dua hal yang selalu bertentangan itu merupakan cara Allah untuk mengetahui kualitas kehidupan seseorang dan agar mereka kembali kepada Allah. 

Watak kehidupan tak pernah kita ketahui, karena itu adalah mutlak milik Allah yang menentukan. Kesulitan hidup yang kita rasakan sesungguhnya adalah cambuk yang paling mujarab, agar kita bergegas untuk merubah keadaan. Karena penderitaan dan kesulitan inilah seringkali kita mampu menemukan jalan yang terbentang, dan akan terlihat kualitas hidup kita. 

“Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu “.Qs. Muhammad [47]:31

Dalam menjalani kehidupan kita sering menemukan empat kenyataan besar, yaitu: Pertama: keadaan ketika sedang mendapat kenikmatan. Kedua: keadaan ketika kita  sedang beristirahat dari problematika kehidupan, dan ini dirasakan oleh semua golongan manusia. Ketiga; keadaan saat kita tertimpa musibah. Dan keempat; keadaan ketika kita sedang dalam ketaatan yang sempurna.

Seandainya kita bisa memilih, tentu kita akan memilih kebaikan dari pada keburukan, kita akan memilih kebahagiaan dari pada kesulitan. Tetapi lagi-lagi, warna hidup bukan kita yang menetukan. Allah yang maha tahu atas segala sesuatu. Dan setiap pilihan Allah pastilah yang terbaik untuk manusia.

Amalan Tergantung Akhirnya

Anwar Anshori Mahdum Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapankah kita akan meninggal, dan dengan cara ...