Kamis, 29 Agustus 2024

DUNIA NEGERI COBAAN

Tidak ada yang menyangkal beragam musibah dan penderitaan harus terjadi di dunia ini. Sebuah keniscayaan yang tidak mungkin kita elakan. Akal pikiran dan lubuk hati mengakui betapa dunia yang kita singgahi ini begitu akrab dengan musibah. Setiap kenikmatan yang di reguk di dunia selalu berdampingan dengan penderitaan atau kesengsaraan. Itulah ujian Allah kepada hamba-Nya. Dua hal yang selalu bertentangan itu merupakan cara Allah untuk mengetahui kualitas kehidupan seseorang dan agar mereka kembali kepada Allah. Karenanya, membiasakan diri untuk bersabar menghadapi ujian dengan beragam tantangan, sangat membutuhkan tekad yang kuat dan mental yang mantap.

“ Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” . Qs. Al-Ankabut [29]:1-3

Abul Faraj Ibnu Al-Jauzi, seorang alim di jamannya. Ia berkata:  “ Kalaulah dunia ini bukanlah negeri cobaan, tentu tak akan ada penyakit dan hal-hal yang terlalu kelam. Tidak ada kesempitan hidup seperti yang di rasakan oleh para nabi dan orang-orang yang terbaik. Namun ternyata, lihatlah dalam penggalan sejarah orang-orang pilihan: 

Nabi Adam as harus mengalami ujian berat sampai beliau tinggal didunia. 
Nabi Nuh as harus menangis selama 300 tahun dan meratapi musibah. 
Nabi Ya’qub menangis hingga matanya buta. 
Nabi Musa as harus menderita menghadapi firaun yang durjana. 
Nabi Isa as tidak punya tempat berteduh serta hidup serba kekurangan. 
Dan Nabi Muhammad saw harus mendapat cercaan yang menyakitkan saat menghadapi ummatnya sampai beliau harus hijrah ke Maddinah.

Itulah sekelumit contoh tentang sejarah ‘penderitaan’ panjang yang memang akan selalu hadir di setiap kesempatan dan keadaan. 

Introspeksi umur Kita

 

Hitunglah..!!

Sekedar ilustrasi tentang  betapa singkatnya waktu kehidupan ini dan betapa banyaknya waktu yang terbuang.. Hitunglah dan bandingkan tentang apa yang kita pergunakan dalam perjalanan waktu yang terlewati:

AKTIVITAS                          WAKTU

1. Tidur                                   8 Jam

2.  Kerja                                  9 Jam

3.  Perjalanan                          2 Jam

4.  Sholat @ 15 Menit            1,15 Jam

5.  Santai dan Lain-lain          3,45 Jam

Total                                       24 Jam

Dari perhitungan kasar diatas, tampak betapa sedikitnya Allah meminta ibadah ritual, hanya 1,15 menit (5 % saja dari waktu sehari). Lihatlah, betapa sedikitnyaa waktu yang kita gunakan untuk sholat!. Cukuplah catatan ini menjadi bahan perenungan bagi kita.  Marilah kita asumsikan saja bahwa umur kita yang produktif adalah 60 tahun, maka akan kita lihat perhitungannya sebagai berikut:

1.    Waktu untuk tidur adalah 8 jam/hari, berarti 1/3 dari aktivitas kita sehari itu di pakai untuk tidur. Jika umur kita 60 tahun, berarti 1/3 X 60 tahun = 20 tahun untuk tidur.

2.     Waktu untuk bekerja di butuhkan 9 jam, jika umur kita yang produktif adalah 60 tahun, berarti secara akumulatif telah menyita umur kita selama 22,5 tahun dari umur kita.

3.     Waktu sholat hanyalah 1,15 jam, atau untuk memudahkannya, katakanlah 2 jam termasuk sunnah dan tahajjud. Ini berarti 1/12 jam di pakai untuk ibadah, jika umur kita 60 tahun, berarti 1/12 X 60 tahun = 5 tahun di pakai untuk sholat ( bandingkan dengan waktu tidur dan kerja).

Dengan demikian, betapa sedikitnya waktu yang kita nikmati dan betapa sedikitnya waktu yang di minta Allah untuk ibadah sholat, padahal perhitungan tersebut tidak kita masukan umur baligh  (dewasa) dimana taklif atau hukum syariat mulai berlaku.

Mulailah dari sekarang kita mengintropeksi tentang kehidupan kita. Hitung, lebih banyak banyak mana; amal sholeh atau amal salah, dan lebih sering mana; maksiat atau taat.!






Rabu, 28 Agustus 2024

3 Hal Tentang Hidup


1.  Hidup adalah perjuangan

Diantara kebijakan Allah adalah Dia tidak pernah menempatkan hamba-hamba-Nya hidup ditengah lingkungan yang dengan sendirinnya dapat memberikan kebaikan tanpa usaha. Tetapi Allah menghidupkan kita ditengah-tengah keadaan yang mengharuskan kita berjuang. Bukankah hidup itu sendiri adalah arena tempat kita berjuang.  Kesulitan hidup yang terus kita rasakan sesungguhnya adalah cambuk yang paling mujarab, agar kita bergegas untuk merubah keadaan. Karena penderitaan dan kesulitan inilah, seringkali kita mampu menemukan jalan yang terbentang, dan akan terlihat kualitas hidup kita. Hidup tidak ada artinya jika hanya memiliki satu warna.

2.  Hidup adalah pergantian waktu

Bila kita telaah dengan dalam, sesungguhnya hidup ini tak lain dari perputaraan antara kebahagiaan, ada suka dan duka yang kita rasakan, ada lapang dan sempit dalam kehidupan. Membiasakan diri untuk bersabar menghadapi ujian dengan beragam tantangan, sangat membutuhkan tekad yang kuat dan mental yang mantap. Menyerah terhadap semua itu tidak akan membuahkan apa-apa selain kehinaan. Hanyut dalam kenestapaan hanya akan menyiksa keadaan dan membiarkan diri terpuruk dalam keputusasaan hanya akan membuka peluang kesedihaan. 

Setiap kita suka atau tidak suka harus mampu menghadapi apapun persoalaan yang kita tidak sukai, karna sejauh apapun kita berlari untuk sembunyi semua itu tidak akan merubah ketetapan Ilahi. Yakinlah, bahwa langit tak selamanya mendung, awan kelabu pasti berlalu. Rasulullah seakan menghibur kita dengan sabdanya: “Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin, karena semua urusannya baik baginya. Bila ia mendapat ( kebahagiaan ) maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah ( kesusahan ) maka ia bersabar dan itu menjadi kebaikan pula baginya”.( HR Muslim.)

3. Hidup Adalah Kesementaraan

Dan watak kehidupan yang lain adalah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal. Artinya selalu berubah keadaan, termasuk segala kesulitan yang kita derita. Ia tidak selamanya bersemayam pada kehidupan kita. Akan ada kemudahan bersama datangnya kesulitan. Allah berfirman“ Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.( Qs Alam Nashrah [94]: 5-6 )

Dalam ayat ini di jelaskan: bersama kesulitan itu terdapat kemudahan. Dan tidak diungkapkan dengan ungkapan: ( sesungguhnya “sesudah” kesulitan itu terdapat kemudahan ), jadi yang di gunakan kedua ayat ini adalah; kata “Ma’a ( bersama ) dan bukan ba’da  ( sesudah ). Apa artinya; artinya ungkapam ini bertujuan untuk menyatakan bahwa kemudahan akan datang sesudah itu dalam waktu yang amat dekat. Hingga seakan-akan kemudahan itu datang bersama dengan kesulitan itu sendiri. Juga merupakan suatu pernyataan bahwa setiap kesulitan akan disususl dengan kemudahan yang lebih baik. Sunatullah telah mengajari kita, bahwa ketika penderitaan telah sampai pada puncaknya, maka akan mengisyaratkan bahwa telah mendekatkannya kemenangan dan pertolongan.

*****

 

Memaknai Arti Hidup

Anwar Anshori Mahdum

Semakin kita sadar akan hakikat hidup di dunia, niscaya kita akan semakin tepat dalam menyikapinya, sehingga kita menemukan makna hidup. Sebaliknya, semakin mengambang kesadaran kita akan hakikat hidup, maka akan semakin tidak tepat dalam menyikapinya, sehingga hidup tidak membawa makna tapi justru membawa sengsara. 

Ketahuilah, kehidupan yang bermakna bukan diukur dari seberapa lama kita hidup, tetapi makna hidup diukur dari seberapa efektifkah kita mampu memanfaatkan hidup.

Ada beberapa yang dapat diukur jika kita ingin menjadikan hidup penuh makna dan selalu menjadi orang yang berguna. di antaranya adalah:

Tujuan hidup: Hanya Mencari ridha Allah SWT
Fungsi hidup: Hanya Sebagai khalifah Allah SWT
Tugas hidup: Hanya Beribadah hanya kepada Allah SWT
Alat hidup: Segala kenikmatan yang diberikan Allah SWT
Teladan hidup: Hanyalah Rasulullah, Nabi Muhammad saw
Pedoman hidup: Adalah firman Allah, ialah  Al-Qur’an al kariim
Teman Hidup: Orang yang selalu berjuang di jalan Allah SWT


Orang yang memiliki kecerdasan rohani dan kesadaran yang tinggi akan menjadikan tolok ukur di atas sebagai pola kehidupannya. Baginya hidup ini adalah tidak lebih dari serangkaian kumpulan keputusan.

Setiap kali mengambil keputusan berarti menetapkan sebuah pilihan terbaik. Dan pilihan terbaik adalah ketika kita mampu menemukan makna hidup. Maka hidup yang benar lahir dari sebuah pandangan yang benar tentang hidup. Seseorang yang memiliki pandangan yang benar tentang hidup selalu menyadari bahwa umur atau usia yang dimiliki pada hakikatnya merupakan kesementaraan. 

Pada akhirnya ia menyadari, bahwa suatu saat akan menemukan batas akhir perjalanan yaitu kematian. Karena sesungguhnya hidup hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian (akhirat)

 






Senin, 26 Agustus 2024

Tawakkal Penghapus Resah

 

Anwar Anshori Mahdum

Tawakkal merupakan kebutuhan pasti bagi siapapun yang  mengharapkan ketenangan diri. Inilah sarana yang di persiapkan Allah kepada orang-orang beriman dalam menjalankan kehidupan yang begitu syarat cobaan dan jujian ini.  Buah dari tawakal kepada Allah adalah memberikan pengaruh yang sangat besar kepada jiwa kita, antara lain; ketenangan, ketentraman, kekuatan, kemuliaan, ridha dan harapan yang  penuh dengan keyakinan. 

Tawakkal adalah berserah diri, mempercayakan atau mewakilkan  hidup sepenuhnya hanya kepada Allah, bersandar kepada kekuatan-Nya saat menghadapi kesukaran hidup. “Orang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang mengetahui bahwa Allah adalah penanggung rizkinya dan urusanya. 

Hakekat tawakkal adalah ketergantungan hati secara jujur kepada Allah guna meraih kemaslahatan-kemaslahatan atau menolak bencana-bencana, baik dalam urusan duniawi maupu ukhrawi, dan merealisasikan keimanan bahwa tiada yang dapat memberi mudharat dan memberi manfaat, melainkan Allah. 

Tawakkal kepada kepada Allah merupakan bagian dari kesadaran akidah dan akhlakul karimah seorang muslim:“….(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung". Qs. Ali-Imran [3]:173

Al-Alamah Al-Manawi dalam Faidul qadir berkata: Tawakkal adalah menampakan kelemahan dan penyandaran (diri) kepada yang di tawakkali.”. Ibnul Qayyim menambahkan: bahwa tawakal adalah separuh dien, dan separuh lainnya adalah inabah (kembali kepada Allah). Dien adalah isti’anah (memohon pertolongan kepada Allah) dan ibadah. Tawakkal adalah isti’anah, sedangkan inabah adalah ibadah. Bahkan tawakkal adalah ibadah yang murni dan tauhid yang murni pula, jika orang yang bertawakkal tersebut melaksanakan tawakkal itu dengan sebenarnya.

Sikap tawakkal dan bersandar penuh kepada Allah adalah solusi bagi kegelisahan jiwa.“…Mereka menjawab, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia lah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah memiliki karunia yang sangat besar. (Q.S Ali Imran: 173-174)

Jiwa yang meyakini bahwa Allah-lah yang mencukupinya dan mencukupkan Allah baginya. Dia tidak memerlukan pertolongan dan perhatian manusia. Dia tidak harus mencari-cari perhatian atasannya, menangis dan mengemis mengharap belas kasih orang lain. Karena dia tahu orang lain pun memiliki kesulitan dan kebutuhan yang sama. 

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (Q.S At-Taubah: 129)

Bagaimana jiwa tak tenang bila ia yakin Allah yang menjaga dan mencukupkan segala kebutuhan, mengurus segala masalah dan melindunginya dari segala bentuk kejahatan (QS.Ath-Thalaq:3). Ditambah dengan hadirnya cinta Allah kepada hamba yang bertawakkal. Cinta Allah akan mengundang perhatian, pertolongan dan solusi dari Allah atas berbagai permasalahan hidup. Bagai seorang yang mencintai orang lain, ia akan memperhatikan dan mencukupi segala kebutuhannya.

 


Kegelisahan Orang Beriman

Anwar Anshori Mahdum

Kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman adalah, ketika dapat melakukan ketaatan, dan kegelisahan mereka adalah, ketika semakin berkurangnya kebaikan”. Orang yang hatinya masih sesuai dengan fitrah dan memiliki nilai keimanan yang cukup, ia akan merasakan kegelisahan dan  selalu tidak tenang jika melakukan  perbuatan dosa. Kegelisahan yang hadir karena menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan, adalah wujud dari kesadaran iman. . Dan kesadaran itu membuat ia terus berusaha untuk menyempurnakannya. Baginya hidup adalah untuk mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan yang kekal (akhirat). 

Bagi orang beriman, Dunia bukanlah tujuan, tetapi hanya perantara untuk menggapai keridhoan. Mereka selalu menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian. 

Ketika mereka menghadapi musibah, selalu disikapi dengan tabah dan ia tidak berkecil hati. Hadirnya sikap seperti ini muncul karena ia mampu menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Sebab dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya inspirasi dalam kehidupan, akan menghadirkan sikap optimisme dan kebesaran jiwa yang mantap.

Itulah kekuatan iman, yang selalu menyadari bahwa jika Allah menghendaki segala sesuatu, maka tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengelaknya. Dengan kesadaran dan keyakinan ini, seorang mukmin akan terbebas dari ketakutan, kelemahan dan keresahan di samping terhiasi dirinya dengan kesabaran, kekuatan dan keberanian.  Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."( QS.At- Taubah [ 9]:51)

Bila kita serahkan hidup ini dengan berbagai persoalannya kepada Allah yang didasarkan atas keyakinan yang mutlak kepada-Nya, akan membuat hati dan jiwa tegar dan teguh dalam menghadapi berbagai problem dan tantangan kehidupan. Karena itu, mengimani Allah dengan berbagai atribut-Nya, baik sifat maupun perbuatan-Nya, adalah suatu keharusan mutlak. Sebab itulah kunci membuka tirai kebahagiaan.“dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang], karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya( QS.Al-Baqarah [2]:255)

 


 

Sebab Hadirnya Kegelisahan

Anwar Anshori Mahdum

Gelisah, memang satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan gelisah tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya, gelisah mereka hilang, dosa pun menerkam.

Kegelisahan, sesungguhnya tidak selalu berdampak negative, tergantung motiv yang melatar belakanginya. Ada gelisah karena hadirnya kesadaran yang dalam tentang perilaku diri, sadar banyak melakukan kesalahan. Dan kegelisahan seperti itu menandai sedang menguatnya keimanan. Hasilnya perasaan khawatir datang saat ia merasakan begitu banyak melalaikan kewajiban. Dan kekhawatiran ini adalah kekhawatiran yang positif. Allah Ta’ala telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan mendengar seruan Allah Ta’ala, yang akan membantunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah Ta’ala.

 Ada juga gelisah karena faktor kekhawatiran yang berlebihan tentang kehidupan, yang ditandai dengan adanya ketakutan dalam beberapa hal, seperti takut miskin, takut kehilangan harta, takut ditinggal oleh orang yang dicintai, takut kerjanya di PHK, takut tidak dapat jodoh atau takut tiba-tiba kematian datang menjemputnya. Gelisah jenis ini biasanya disebabkan karena keyakinan yang lemah tentang kebenaran yang datang dari Allah. Dan ini menandakan sedang melemahnya keimanan. 

Dan yang berikutnya adalah ada gelisah karena dikejar rasa bersalah, entah salah kepada diri sendiri, kepada orang lain, lebih-lebih kepada Allah.  Hal ini disebabkan karena kita pernah melakukan dosa dan kemaksiatan atau perilaku yang kurang pantas, sehingga menyebabkan jiwa tidak tentram, hidup tidak nyaman karena dikejar rasa bersalah yang terus menghantui.

Dalam pandangan psikologi Islam, Secara umum ada dua bentuk kegelisahan dalam diri seorang muslim, dua hal itu adalah:

  1. Gelisah karena Menguatnya keimanan

Kegelisahan yang seperti ini bisa disebut kegelisahan yang positif, karena itu didorong oleh keinginan untuk selalu menyempurnakan kebaikan. Beberapa hal yang menandakan gelisah karena menguatnya keimanan, yaitu hadirnya rasa takut kepada Allah. Kegelisahan jenis ini hadir karena kita menyadari begitu sering melakukan kesalahan.

Kesalahan itulah yang menyebabkan hati kita bertambah resah. Perasan takut (khauf) dan harap (raja’) bercampur menjadi satu. Takut jika kesalahan (dosa) tidak terampuni dan harap agar dosa dan kesalahannya dapat terampuni. Bagi pribadi muslim perasaan takut (khauf) adalah ungkapan derita hati dan kegundahan terhadap apa yang dihadapinya. Dan khauf  (takut) inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikutinya dengan bentuk-bentuk ketaatan.

Semakin ia mengetahui aib dirinya dan mengetahui keagungan Allah, kemuliaan-Nya dan hadirnya kesadaran bahwa setiap perbuatannya kelak akan dipertanggungjawabkan, maka kegelisahannya akan semakin kuat, rasa takutnya akan semakin meningkat.

Buah dari perasaan khauf ini adalah, ia akan mampu menguasai segala kegundahan dan tahu bahayanya. Hasilnya, tiada lagi kesibukannya selain usaha untuk mendekatkan diri, muhasabah dan mujahadah. Bahkan ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah dan kalimat yang keluar dari dirinya.“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka ( dengan sesuatupun ).dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, ( karena mereka tahu bahwa ) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera berbuat kebaikan, dan merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya “.

Yahya bin Mu’azd berkata: “Jika seorang mukmin melakukan kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga, takut akan siksa dan harapan akan ampunan “.

  1. Gelisah karena lemahnya iman

Untuk kegelisahan jenis ini, ada dua motif yang menghadirkannya. Pertama, motif yang keluar dari dorongan syahwat seksual. Kedua, motif karena dorongan cinta yang berlebihan pada harta, atau yang selalu terkait dengan keduniaan.

Kegelisahan yang disebabkan dua hal ini cenderung menguat, dan ketika tidak mampu meraih apa yang diinginkan nafsunya, gelisah akan semakin bertambah resah. Kegelisahan yang seperti ini menandai lemahnya daya tahan keimanan.

Dalam pandangan psikologi, dua hal yang melatar belakangi hadirnya kegelisahan adalah karena lemahnya rasa percaya diri. Tetapi jika rasa percaya diri kita kuat tidak akan menimbulkan kegelisahan. Selain itu, kegelisahan hadir karena berangan-angan yang tidak realistis, atau terlalu berlebihan mengharapkan sesuatu tetapi tidak diimbangi dengan kemampuan. Tetapi yang lebih pasti, adalah kegelisahan hadir karena keyakinannya akan takdir tidak sempurna.




Amalan Tergantung Akhirnya

Anwar Anshori Mahdum Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapankah kita akan meninggal, dan dengan cara ...