 |
| Anwar Anshori Mahdum |
Gelisah, memang satu penyakit
hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh
kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing
untuk menghilangkan gelisah tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan
cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang
menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya,
gelisah mereka hilang, dosa pun menerkam.
Kegelisahan, sesungguhnya tidak
selalu berdampak negative, tergantung motiv yang melatar belakanginya. Ada
gelisah karena hadirnya kesadaran yang dalam tentang perilaku diri, sadar
banyak melakukan kesalahan. Dan kegelisahan seperti itu menandai sedang menguatnya
keimanan. Hasilnya perasaan khawatir datang saat ia merasakan begitu banyak
melalaikan kewajiban. Dan kekhawatiran ini adalah kekhawatiran yang positif. Allah
Ta’ala telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah
satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan
mendengar seruan Allah Ta’ala, yang akan membantunya dapat merasakan apa yang
tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala
sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah Ta’ala.
Ada juga gelisah karena faktor kekhawatiran
yang berlebihan tentang kehidupan, yang ditandai dengan adanya ketakutan dalam
beberapa hal, seperti takut miskin, takut kehilangan harta, takut ditinggal
oleh orang yang dicintai, takut kerjanya di PHK, takut tidak dapat jodoh atau
takut tiba-tiba kematian datang menjemputnya. Gelisah jenis ini biasanya
disebabkan karena keyakinan yang lemah tentang kebenaran yang datang dari
Allah. Dan ini menandakan sedang melemahnya keimanan.
Dan yang berikutnya adalah
ada gelisah karena dikejar rasa bersalah, entah salah kepada diri sendiri,
kepada orang lain, lebih-lebih kepada Allah.
Hal ini disebabkan karena kita pernah melakukan dosa dan kemaksiatan
atau perilaku yang kurang pantas, sehingga menyebabkan jiwa tidak tentram,
hidup tidak nyaman karena dikejar rasa bersalah yang terus menghantui.
Dalam pandangan psikologi Islam, Secara umum ada dua bentuk kegelisahan dalam diri seorang muslim, dua hal itu adalah:
- Gelisah karena
Menguatnya keimanan
Kegelisahan yang seperti ini bisa
disebut kegelisahan yang positif, karena itu didorong oleh keinginan untuk
selalu menyempurnakan kebaikan. Beberapa hal yang menandakan gelisah karena
menguatnya keimanan, yaitu hadirnya rasa takut kepada Allah. Kegelisahan jenis
ini hadir karena kita menyadari begitu sering melakukan kesalahan.
Kesalahan itulah yang menyebabkan
hati kita bertambah resah. Perasan takut (khauf) dan harap (raja’) bercampur
menjadi satu. Takut jika kesalahan (dosa) tidak terampuni dan harap agar dosa
dan kesalahannya dapat terampuni. Bagi pribadi muslim perasaan
takut (khauf) adalah ungkapan derita hati dan kegundahan terhadap apa yang dihadapinya.
Dan khauf (takut) inilah yang
mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikutinya dengan bentuk-bentuk
ketaatan.
Semakin ia mengetahui aib dirinya
dan mengetahui keagungan Allah, kemuliaan-Nya dan hadirnya kesadaran bahwa
setiap perbuatannya kelak akan dipertanggungjawabkan, maka kegelisahannya akan
semakin kuat, rasa takutnya akan semakin meningkat.
Buah dari perasaan khauf ini
adalah, ia akan mampu menguasai segala kegundahan dan tahu bahayanya. Hasilnya,
tiada lagi kesibukannya selain usaha untuk mendekatkan diri, muhasabah dan mujahadah.
Bahkan ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah dan kalimat yang
keluar dari dirinya.“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Rabb
mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yang
tidak menyekutukan Rabb mereka ( dengan sesuatupun ).dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, ( karena
mereka tahu bahwa ) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka
itulah orang-orang yang bersegera berbuat kebaikan, dan merekalah orang-orang
yang pertama-tama memperolehnya “.
Yahya bin Mu’azd berkata: “Jika
seorang mukmin melakukan kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah
satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga, takut akan siksa dan
harapan akan ampunan “.
- Gelisah
karena lemahnya iman
Untuk kegelisahan jenis ini, ada
dua motif yang menghadirkannya. Pertama, motif yang keluar
dari dorongan syahwat seksual. Kedua, motif karena dorongan
cinta yang berlebihan pada harta, atau yang selalu terkait dengan keduniaan.
Kegelisahan yang disebabkan dua
hal ini cenderung menguat, dan ketika tidak mampu meraih apa yang diinginkan
nafsunya, gelisah akan semakin bertambah resah. Kegelisahan yang seperti ini
menandai lemahnya daya tahan keimanan.
Dalam pandangan psikologi, dua
hal yang melatar belakangi hadirnya kegelisahan adalah karena lemahnya rasa
percaya diri. Tetapi jika rasa percaya diri kita kuat tidak akan menimbulkan
kegelisahan. Selain itu, kegelisahan hadir karena berangan-angan yang tidak
realistis, atau terlalu berlebihan mengharapkan sesuatu tetapi tidak diimbangi
dengan kemampuan. Tetapi yang lebih pasti, adalah kegelisahan hadir karena
keyakinannya akan takdir tidak sempurna.